Awas, jangan langsung percaya dengan struk bukti transfer.



Zaman serba online seperti sekarang ini memang membuat ruang pemasaran menjadi semakin luas, yang tentu saja membuat para pedagang bahagia, karena persentase penjualan bisa semakin meningkat. Namun hal tersebut bukannya tanpa kekurangan. Kalo dalam film superhero, pasti akan selalu ada tokoh jahat yang hadir dalam sebuah cerita. Tokoh yang selalu mampu memanfaatkan situasi untuk kepentingan dan kepuasan dirinya sendiri. Nah dalam dunia transaksi online juga pasti akan ada orang orang yang mampu berpikir out of the box alias suka bikin kalut dan pantas digebuk seperti itu.

Sebelumnya, aku sudah pernah menulis tentang tips berbelanja online yang aman, yaitu disini dan disini. Nah, kali ini aku akan menulis dari sisi penjual barang. Ternyata modus penipuan tidak hanya menimpa pembeli saja loh. Penjual pun ternyata berpotensi untuk jadi korban penipuan. Loh, gimana caranya? Kebetulan kemarin aku mengalami sendiri dan hampir saja kena tipu. Jadi kupikir tak ada salahnya kuceritakan disini, sebagai bahan pembelajaran buat yang lain agar tidak terkecoh dengan kostumer jadi jadian seperti yang kualami.



oke, langsung saja...


Di suatu pagi yang cerah.. kala mentari haturkan sapa pada hati insan yang sedang gundah, (ceileh.. bahasamu tong.) aku iseng naroh iklan di berbagai situs jual beli online. Ya seperti yang kita ketahui, ada banyak situs jual beli online sekarang.. kebetulan aku pasang iklannya di situs burung hijau dan nego cincay, dan aman aman saja. Hingga akhirnya aku pasang juga iklan di toko online 3 huruf yang tokonya udah bukan milik si bagus itu lagi.

1 jam berlalu sejak iklan aku tayang.. HP berdering

Kulihat nomor asing,

Dalam sekejap aku angkat telp itu tanpa ada rasa takut kalau sang penelpon memakai bahasa asing. Dan benar saja, sang penelpon asing ini menggunakan bahasa yang tidak asing. Bahasa pemersatu kita, Bahasa tumpah darah kita, Bahasa Indonesia!

Kira kira beginilah rekapan pembicaraan kami di telepon: (maaf tidak ada rekaman suara, karena ga kepikiran buat ngerekam)
-Ane Aku, Mr X Penelpon-


Mr X: Halo
Ane: Ha-lo
Mr X: Duh suaranya putus putus.. Halo? Halo?
Ane: Halloooo???????


tut..... tut.... telepon dimatikan dari seberang.


Menit berikutnya dia nelpon lagi, dan kebetulan moodku sudah hilang untuk menuliskan rekapan pembicaraan kami, hahaa... ya, intinya dia nanyain apa benar saya yang jual Lensa di toko XYZ itu, dan I said Yes!
Sampai sini memang tidak ada yang mencurigakan.

Tapi berikutnya mulai terbesit rasa curiga. Hal ini berawal dari diabaikannya salah satu sifat warga negara Indonesia yang sudah mendarah daging sejak zaman kakeknya kakek ane saat bertransaksi jual beli. Yaap, Si Mr X ini ga nawar harga!!. Detik berikutnya kecurigaanku mulai bertambah, karena nampak dari percakapan ini antusias sang penelpon bukan pada barang! melainkan pada transaksi itu sendiri.

Maksudnya gini..
Kebetulan aku sendiri kan juga salah satu penyandang status buyer online alias makhluk yang suka berbelanja online. Tentu tidak sembarangan dan banyaaaak sekali pertimbangan sampai akhirnya deal untuk melakukan transaksi. Anggap saja aku yang mau beli lensa ini.. Aku pasti akan bertanya dengan SANGAT DETIL tentang KONDISI barang (apalagi untuk barang seken yang harganya setara UMR di Banjarmasin seperti barang yang kujual ini). Dari hal hal umum seperti "Kenapa dijual?" atau "minus barang ini apa?" sampai ke hal hal khusus seperti "udah punya pacar belum?" (khusus cewek) akan aku tanyakan sampai ke hal hal terkecil.

Tapi si Mr X ini tidak.

Dia memang menanyakan apakah ini barang pakaian sendiri, dan udah berapa lama dipakai? tapi terasa sekali itu pertanyaan kosong nan hammbar. Karena jawaban jawaban dariku seperti tidak diperhatikannya (tak bisa dijelaskan disini, tapi kalian pasti tau lah  ya.. gmana nada orang yang antusias dan tidak itu) dia justru langsung menekankan apakah bisa kirim kirim karena dia bukan posisi Banjarmasin.

Langsung dia menanyakan apakah aku punya aplikasi Chatting WA, ya kubilang aja nomer WA aku ya nomer yang dia telpon ini. Oke kita lanjut di WA katanya.

Yap, bener aja. detik berikutnya notif WA aku berbunyi. Berharap sih itu chat dari gebetan.. soalnya ditunggu tunggu ga pernah si doi ngechat (emot sedih)

eh dari Mr X ternyata.

Seiring waktu berlalu, si Mr X ini semakin bikin aku curiga. Bukan karena doi Balesnya lama meskipun status WA nya online dan ada indikasi chattingan ama cwo lain. Tapi karena orang ini TERLALU  (aduh gimana ngejelasinnya ya..)

gini..
kembali ke paragraf sebelum ini. AKu bisa merasa kalau Antusias ni orang bukan pada keinginannya untuk memiliki barang, tapi lebih ke bagaimana agar transaksi ini bisa terjadi.
Lucu aja, ketika aku minta alamat pengiriman, eh dianya malah ngirimin foto KTP dia (yang aku yakin itu bukan dia)

Singkat kata singkat cerita, dia langsung minta kirimi no rekening. Ya aku kirim aja rekening Bank M, dan dia langsung oke saja. Langsung menuju ATM katanya.

Ada jeda 10 menit sebelum akhirnya dia mengirimkan bukti transfer kepadaku.
10 Menit.. waktu yang sangat cukup untuk mempelajari KTP yang dia kirimkan kepadaku.

Ada beberapa kejanggalan di KTP tersebut jikalau aku membandingan dengan percakapan kami di telepon tadi.

Pertama,suara orang di telepon terdengar seperti suara bapak bapak 40 tahunan, namun KTP yang dikirimkan menunjukkan kalau dia kelahiran 1994, yang artinya umurnya baru 23 tahun. Okelah.. untuk suara ini kan relatif, tidak bisa dimasukkan sebagai bukti autentik. Tapi bisa jadi pertimbangan aja.

Kedua, Di telepon tadi dia mengaku tinggal dan minta kirim barang ke alamat di HSS. Dan aku baru ngeh, kalau KTP itu adalah keluaran Kabupaten Banjar. Sedang HSS itu cuma tempat lahirnya. (okey, ini sangat mencurigakan)

Ketiga, Jikalau dia benar adalah orang yang sama dengan yang di KTP, berarti dia ini adalah pemuda kelahiran HSS, dan tinggal di Kabupaten Banjar. Rasanya akan sangat mustahil kalau dia tidak bisa berbahasa Banjar, meskipun sedikit. Dan aku heran kenapa di telepon tadi dia sangat BULAT menggunakan bahasa indonesia, bahkan beberapa ada terselip logat jawa disana.

Notif WA berbunyi tepat 10 menit sejak chat terakhir kami. Belum sempat kubuka.. eh mr x langsung nelpon. (hatiku girang, sungguh.. sungguh girang, karena aku punya rencana untuk mengetes dia)


Halo, katanya

Halu juga, kataku

udah saya transfer, katanya

hadangi satumat, lun itihi (tunggu sebentar, saya cek) jawabku. Aku sengaja menggunakan bahasa daerah untuk melihat apakah dia mengerti apa yang aku ucapkan.

kenapa? katanya.

Nah, ini orang tidak mengerti. Sanubariku bergumam

Tunggu dulu, saya cek WA pian. Lanjutku.

Benar saja, dia mengirimkan gambar sebuah struk bukti transfer kepadaku. Tapi formatnya itu bukan format transfer. Entah apa. Dan aku tidak bisa menahan tawa ketika melihat bukti yang dikirimkannya kepadaku itu.

Dia lanjut ngomong Itu saya transfernya pakai M business etau ecash atau apalah gitu, aku sendiri udah tidak fokus lagi pada pembicaraannya dan terus tertawa. Dia lanjut mengatakan kalau itu belum bisa dicairkan kecuali aku langsung ke ATM sekarang juga, nanti dia akan membimbing untuk pencairannya.

Aku masih tertawa.

Alamat pian ni dimana gerang? td bepadah kirim ke HSS, tp KTP pian tu Kab. Banjar.. Parak mana rumah pian? ulun banyak keluarga di kabupaten banjar. Kita betamuan aja nah? ini kada jelas alamat pian bingung ulun ngirimnya kayapa.

Dan orang ini semakin kebingungan.

Tolong bahasa indonesia aja. katanya, saya ini pendatang.. kurang ngerti.

Uma ae.. pian nih maka lahir di HSS, tinggal di Kabupaten Banjar loco banar mun kada bisa bahasa banjar, terus saja aku ngeracau sambil ketawa ketawa.

Dia mengalihkan pembicaraan lagi, itu tadi ada bukti transfernya kan? katanya.. nah itu harus cepat dicairkan, kalo lama lama kodenya tidak berlaku lagi.

Oh gitu ya? kataku.

iya, makanya cepat. lanjutnya

Saya tau kok...
Saya tau...
Kalo bukti itu cuma EDITAN.

Aku ngomong sambil ketawa terbahak bahak.. saking ngakaknya aku baru sadar kalau ternyata telepon sudah ditutup oleh dianya.

Kenapa aku tau itu cuma editan?
Sebenarnya editannya lumayan rapi loh... hanya saja aku sudah terlanjur curiga duluan pada dia lalu langsung mengasumsikan kalau nanti, ketika dia mengirimkan bukti transfer, sangat mungkin kalau itu adalah bukti transfer palsu. Maka dari itu aku langsung mencari cari detil kesalahan umum ketika orang mengedit suatu berkas.

Oke, dimana letak editannya?
Jawabannya semua tulisan disana adalah editan. Yang benar cuma logo bank yang ada di atas.

Apa yang membedakan itu editan dan bukan?
perlu kejelian sih, dan juga dibantu prasangka prasangka seperti yang sudah kujabarkan di atas.
yang jelas,, coba perhatikan perbandingan logo bank, dan tulisan bukti transfer itu.
untuk lebih jelasnya liat gambar.
Diatas sudah aku katakan kalau yang asli dari bukti transfer itu hanyalah logo bank. Artinya logo bank itu yang benar benar ter print oleh mesin ATM. Sehingga karakter tinta dan warna itulah yang harus kita jadikan acuan.
sekarang perhatikan gambar.

Dari segi kepekatan warna saja sudah terlihat beda, untuk logo lebih hitam pekat, namun tulisan isi cenderung berkurang opacitynya.
lalu perhatikan lagi sisi sisi huruf yang ada di logo bank. Satu hal yang harus diketahui: Untuk dokumen apapun, Huruf yang dicetak diatas kertas itu TIDAK AKAN PERNAH SEMPURNA mulus pada bagian sisinya, karena biasanya terpengaruh oleh tekstur kertas ataupun juga karena kualitas mesin print itu sendiri. Lihatlah sisi bagian logo, tampak kasar.. sedangkan pada bagian isi, terlalu mulus.
Selanjutnya, masalah distorsi.
Dalam ilmu fotografi atau desain grafis, ada istilah distorsi. Mungkin tak perlu kujelaskan teorinya disini. Cukup perhatikan ini saja.

Saat kita memotret dokumen.. akan sangat langka sekali kita bisa menghasilkan foto tegak lurus, kecuali pakai scanner atau pakai teknik fotografi khusus. Nah, sialnya si Mr X ini salah target untuk melancarkan aksi tipu tipunya, karena kebetulan aku berkecimpung di dunia ini.
lihat bagian yang aku lingkari di atas.. terlihat posisi kertas agak miring bukan?
secara logika saja, jika bagian atas miring, otomatis bagian lainnya tentu akan mengikuti juga. Tapi pada foto ini tidak.
Supaya memudahkan mata awam, aku mencoba menarik garis bantu hampir di setiap baris teks isi. Hasilnya? kalian bisa liat sendiri... Ia begitu LURUS SEMPURNA.
hal yang sangat mustahil terjadi kecuali ia memang ditulis ulang melalui aplikasi di komputer.

Untuk lebih meyakinkan lagi, aku coba naikkan kontras pada foto ini. dan............... yippaaa!!!
gaperlu dijelaskan lagi. Sudah sangat jelas bukan?

Kesimpulannya:
Zaman telah berkembang dengan semakin pesat. Tekhnologi, selain banyak membantu di berbagai aspek kehidupan, juga membuka ruang untuk para manusia kreatif namun tanpa hati nurani untuk melancarkan aksi kejahatan. Kembali ke diri kita, Jangan pernah bosan untuk belajar, jangan pernah bosan untuk mencari tau. Sebagai antisipasi. Karena orang jahat selalu punya celah untuk memuluskan niatnya. Tetap waspada, jangan cepat panik. Selalu pikirkan kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan orang lain, dan antisipasi.

Jangan pernah takut untuk melakukan sesuatu, selama kita sudah mempelajari kemungkinan terburuknya.


happy shopping online dan happy selling..
Awas, jangan langsung percaya dengan struk bukti transfer. Awas, jangan langsung percaya dengan struk bukti transfer. Reviewed by Arif Rahman on 9:01:00 AM Rating: 5

No comments:

Tosca. Powered by Blogger.