Bangku Taman (Bab1)


BRoooot....

“njir, kenapa lu kentut disini tong?”
“buset dah mana bau banget lagi..”

“wahahaa... sori bro, kaga nahan lagi nih, kayaknya perut ane mules abis nge eksekusi mangga hasil nyolong di kebonnya Mang Sapran pagi tadi.”

“yaudah, cabut yuk... kalo disini terus bisa bisa bodi gue ngerempeng kena radiasi kentut lo.. noh liat, bunga di taman aja udah layu gegara kentut lo.”

“yuk dah, cabut.. ada WC umum gak ya disekitar sini? Kalo ga ada ya WC khusus juga gapapa deh. Ni mangga dalam perut kayaknya udah kaga betah nongkrong di dalam bodi gue”

“alah, tu urusan lo... yg penting sekarang kita cabut dari taman yang udah lu kasih polusi berbahaya ini.”

“yuk..”

Kedua remaja tanggung itupun berlalu pergi.. beranjak dari sebuah bangku taman yang telah mereka duduki sejak 2 jam yang lalu. ya, sebuah bangku taman yang nyaris tidak pernah kosong baik pagi maupun sore hari. Disebut bangku taman karena ia memang berbentuk bangku dan terletak di sebuah taman di tengah kota. Lain halnya jika ia terletak di sekolah, sudah pasti ia akan disebut dengan sebutan bangku sekolah, lalu bagaimana dengan sebutan bangku yang terletak di kantor, di stasiun, atau di pasar? ah sudahlah... sepertinya tidak penting kalau kita memperpanjang pembahasan nama panggilan tersebut, apalah arti sebuah nama panggilan. Yang terpenting adalah mengapa bangku itu ada di sana dan untuk apa ia diletakkan di sana.



Bangku taman yang kita bicarakan ini berukuran sekitar satu setengah meter dengan tinggi yang disesuaikan untuk kenyamanan duduk para penggunanya. Tidak tertulis secara gamblang berapa sebenarnya kapasitas maksimal bangku tersebut. yang jelas, yang duduk disana biasanya hanya satu, dua atau paling banyak 3 orang.

Bangku itu memiliki warna yang cukup kontras dengan hijaunya rumput maupun tanaman di taman tersebut. Di bagian bawah terdapat tulisan nama sebuah Bank Swasta yang cukup besar. Mungkin bangku tersebut adalah hasil dari sumbangan pihak Bank kepada Dinas Tata Kota, entahlah... toh bangku itu tidak pernah peduli. orang orang yang duduk diatasnya pun juga sepertinya tak memperdulikan masalah tersebut. yang mereka pikirkan adalah bangku itu ada di sana, disediakan untuk masyarakat agar bisa duduk santai sambil menikmati suasana taman baik di pagi, siang, sore, malam, tengah malam, subuh ataupun pagi lagi.

Di area taman tersebut bangku ini bukanlah satu satunya bangku yang dibuat sebagai tempat bersantai bagi masyarakat. Tepat 10 meter di seberangnya juga diletakkan bangku dengan warna dan model serupa. Namun tampaknya bangku yang terletak di seberang bangku yang sedang kita bicarakan ini tidak seberuntung bangku yang ada di seberangnya, Seandainya saja ada petugas khusus yang mencatat rasio kenyamanan para penikmat bangku, maka bangku yang terletak di seberang itu kalah jauh dibanding bangku yang sedang kita bicarakan ini. jikalau bangku yang kita bicarakan ini memiliki rata rata waktu penikmat sekitar 1 jam, maka bangku seberang mungkin hanya memiliki waktu sepersepuluhnya saja.

Ada banyak alasan yang bisa menjelaskan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. Namun yang paling gampang dicerna adalah karena letak strategis bangku ini yang sangat bersahabat dengan datangnya sinar matahari. Ya, bangku yang kita bicarakan ini beruntung karena diletakkan tepat berada di bawah pohon yang rindang, sehingga membuat orang orang yang duduk di atasnya sangat nyaman karena terhindar dari gangguan sinar matahari sepanjang hari. Berbeda dengan bangku di seberangnya yang menghadap ke barat, pada sore hari tentu saja para penikmatnya sedikit terganggu oleh sinar matahari yang memancar langsung ke wajah mereka, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kenyamanan dan membuat durasi mereka saat bersantai di sana menjadi lebih singkat.

Selain memiliki catatan yang baik dari segi waktu, bangku ini juga memiliki catatan yang sangat baik dari segi penikmat baru. Jarang sekali terlihat bangku ini kosong pada jam jam produktif untuk bersantai, jikalau orang yang duduk di atasnya sudah pergi maka tak butuh waktu lama baginya untuk ditemukan oleh orang yang baru lagi. Buktinya, tak berselang lama sejak ditinggalkan dua remaja tanggung yang baru menyebar polusi udara tadi, kini seorang gadis manis mulai mendekati bangku tersebut.

Ada sedikit perubahan mimik wajah tatkala sang gadis mendekati bangku itu, dahinya mengerenyit, kemudian terbatuk. Spontan tangan kanannya mengelus-elus lubang hidungnya sendiri. Seperti ada sesuatu yang cukup mengganggu indera penciumannya tersebut. Selang berapa lama setelah mengibas ngibaskan udara di sekitar lubang hidungnya, sang gadis pun merasa mantap untuk duduk di bangku tersebut.

Lima belas menit sudah sang gadis duduk di sana sendirian. Wajahnya yang manis terlihat tak begitu manis lagi karena ada sesuatu dari dalam hatinya yang memaksa wajahnya untuk memasang mimik cemberut, meski begitu sepertinya pesona dirinya sepertinya masih cukup untuk menarik perhatian cowok cowok yang kebetulan lewat di area sana. Bahkan tiga orang cowok yang kebetulan duduk di bangku seberang sibuk main hompimpa untuk menentukan siapa yang duluan mendekati gadis tersebut. Sang gadis sebenarnya menyadari kalau sekarang dia jadi pusat perhatian 3 cowok dekil berwajah kriminil yang duduk di seberangnya, namun ia seakan tak memperdulikannya. Pikirannya saat ini sedang gelisah, berkali kali pula ia menengok jam tangan dan mengecek Smartphonenya. Dan setiap kali ia selesai melakukan hal tersebut, mimik wajah cemberutnya selalu bertambah naik sebanyak 1 level.

Tidak ada penjelasan biologis mengapa sang gadis manis bisa memasang mimik wajah yang tak lagi manis. Ia jelas jelas tidak sedang dalam masa PMS, ia pun juga tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Semua pengaruh suasana hati yang terjadi padanya di sore ini murni semata mata karena masalah psikologis.

30 menit, sang gadis masih sendirian di sana. 3 cowok yang ada di seberang masih saja saling dorong untuk menentukan siapa yang harus mendekati si gadis tanpa ada kemajuan tindakan nyata. Entah sudah berapa ribu kali si gadis melirik jam tangan, berapa ratus pesan ping BBM ia kirimkan, dan berapa puluhkali panggilan teleponnya terabaikan, yang jelas mimik wajah cemberutnya kini telah mencapai level infinity, level maksimum. Wajahnya memang masih tetap manis dan imut, tapi di balik wajah imut itu terpendam rasa amarah yang begitu besar, seperti rasa laparnya seekor harimau yang tidak makan dalam jangka waktu lama. Ya, harimau yang hanya peduli terhadap rasa laparnya, yang membuat ia akan selalu menerkam makhluk apapun yang melintas di depannya. Apapun!

32 menit.
Salah seorang cowok di seberang mulai berdiri mendekat, sepertinya ialah yang diutus untuk melakukan pendekatan terhadap sang gadis. Wajahnya memang sedikit lebih ganteng dibanding 2 teman lainnya, namun harusnya ia sadar diri kalau kegantengannya itu masih berada jauh dibawah bila dibandingkan dengan standar kegantengan yang tertanam dalam kamus pikiran sang gadis.

10 meter menuju terkaman harimau lapar.
Mendadak udara di sekitar sang cowok menjadi dingin. Layaknya tokoh Peter Parker dalam film Spiderman, sebenarnya indera laba laba sang cowok sudah bisa membaca kalau tindakan yang akan dia lakukan ini adalah sesuatu yang sangat sangat berbahaya. Sejenak ia ragu dan terdiam.. tanpa ia sadari kakinya melangkah mundur sehingga menubruk teman yang ada di belakangnya.

“Ayo cepetan Sul, kalo lu ga mau gue aja dah yang maju” seorang temannya menyeloroh.

Rupanya nama sang cowok bukanlah Peter Parker. Entah apa nama aslinya sehingga ia dipanggil dengan sebutan Sul oleh temannya itu. Bisa jadi nama lengkapnya adalah Samsul, Sulaiman, atau bukan tak mungkin kalau nama sebenarnya adalah Wardi, tapi karena waktu kecil sering bisulan makanya ia sering diejek teman temannya dengan sebutan “Sul”. Ah, mungkin sebaiknya nama asli dari cowok ini tak perlu kita perdebatkan lebih panjang lagi, ada sesuatu yang lebih penting dan sangat gawat yang akan terjadi. Si pemilik panggilan Sul ini, kini telah memasuki area yang sangat sangat berbahaya, ia telah melanggar garis “Angry Girl Line, do not cross” dan ia tak menyadari sepenuhnya akan bahaya yang mengintainya.

Insting alarm bahaya milik Sul berbunyi lagi. Tapi telinga Sul kini telah tertutup oleh bayangan wajah manis sang gadis. Ia membayangkan bagaimana nanti kalau ia sudah bisa mendapatkan Pin BB atauupun nomor handphone sang gadis. Bagaimana nanti ia akan menghabiskan malam untuk telpon telponan atau sekedar chatting bersama si gadis idaman. Pokoknya ia harus bisa, karena jika ia tidak maju, maka temannya yang akan maju. Dan ia sungguh tidak rela jikalau temannya lah yang akan mendapatkan nomor si gadis. Ia harus menentukan masa depannya sendiri, apapun resikonya!!

Ia punya prinsip, masa depanku aku yang tentukan. Apa yang aku inginkan, harus aku usahakan. Dan kali ini ia menginginkan nomor kontak si gadis. Maka cara paling sederhana adalah dengan menghampirinya, dan mencoba pendekatan secara langsung. Sul tahu, Sul sadar.. yang namanya usaha itu tak selamanya akan membuahkan hasil positif. Tapi ia yakin kalau hal itu lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali.

Prinsip Sul sebenarnya cukup baik, namun seharusnya ia juga mempelajari untuk memperhitungkan kapan waktu yang tepat untuk menerapkan prinsipnya tersebut. Dan sepertinya waktu ini jelas bukanlah waktu yang tepat.

5 meter menuju terkaman harimau
si Sul sudah mempasrahkan diri pada apa yang akan terjadi. ia sudah tak peduli lagi dan melangkah semakin mantap untuk mendekati sang gadis. si gadis tampak menatap tajam ke arahnya, sebuah tatapan haus akan mangsa yang ternyata disalah artikan oleh Sul yang mengira itu tatapan selamat datang. kita semua mungkin bisa menebak apa yang akan terjadi. Bayangan bahwa seekor kelinci kecil tak berdaya sedang menyerahkan diri untuk dimangsa oleh harimau yang sangat sangat kelaparan. Sebuah pemandangan yang tentu lebih mengerikan dibandingkan dengan tayangan National Geographic Wild akan segera tersaji di taman itu.

Sementara itu suasana terasa semakin menegangkan. Dari belakang terlihat dua orang teman Sul sedang melakukan taruhan bagian mana dari tubuh Sul yang akan ditampar oleh si gadis. Taruhannya siapa yang kalah harus menghibur ataupun mengobati luka luka Sul pasca tragedi nanti. Sul yang tak menguasai ilmu perhitungan peluang terus saja maju tanpa tahu kalau sebenarnya ia tak punya peluang sama sekali.

Hanya tinggal beberapa langkah untuk menyapa sang gadis, beberapa langkah menuju bencana terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya, tiba tiba...

"helo beb, lama ya nungguin aku?"

si cewek menoleh ke arah belakang. Disana tampak berdiri seorang cowok tampan yang kalau dilihat sekilas mirip aktor Hollywood Brad Pitt, namun dalam versi low budget.

Sul sadar, ia tak ada tandingannya bila dibandingkan dengan wajah cowok tadi. Memang, Sul sebenarnya juga memiliki wajah yang mirip dengan aktor film Hollywood di film Rocky. Ya, wajahnya memang mirip Silvester Stallone di film tersebut, namun sayangnya hanya pada adegan adegan tertentu saja. Wajahnya cuma bisa mirip sang aktor cuma pada saat wajah sang aktor bonyok pas lagi tanding tinju. Menyadari fakta tersebut, Sul akhirnya memilih untuk mundur dan kembali pada teman temannya. Satu nyawa terselamatkan.

"beb, kamu kok cemberut gitu sih? ntar manisnya ilang loh"

Yang dipanggil beb itu masih saja diam dengan tatapan tajam. Ia mengangkat tangan kirinya dan mendekatkan pergelangan tangannya ke wajah Brad Pitt KW. Tangan kanannya menunjuk jam tangan di pergelangan kirinya.

“Jam berapa ini? Kamu telat 34 menit 15 detik”

“yah beb, kamu kan tau kalo rumah aku jauh dari sini. Lagian tadi juga aku langsung berangkat begitu kamu minta ketemuan”

“Nyatanya kamu telat, kamu ga tau berapa lama aku nungguin di sini? Kamu ga tau betapa ga nyamannya aku terus menerus diliatin sama 3 cowok dekil di seberang itu?”

Si cewek sedikit menaikkan nada bicaranya sambil menunjuk ke Sul dan kawan kawan yang ada di seberang. Yang ditunjuk rupanya merasa kalau merekalah yang jadi topik pembicaraan duo sejoli ini. Dengan bermaksud menghindari masalah lebih lanjut karena otot si Brad Pitt lebih besar dari mereka, Sul dan kawan kawan pun bergegas untuk pergi dari sana.

“tadi kita kan berangkatnya waktunya barengan dari rumah, tapi kamu tuh tega banget bikin aku nunggu selama ini!! Kamu tu ga ada pengertiannya !!! ngapain aja di jalan tadi? Pasti sambil jelalatan ngeliatin cewek lain, iya kan???”

“aduuh bebeeeeb... rumah aku kan jauh, bebeb sih enak. Rumah bebeb Cuma di belakang taman ini, sambil ngesot juga pasti nyampe. Lagian tadi aku juga ngebut banget beb, saking ngebutnya polisi tidur aja tadi sampe bangun buat neriakin aku.”

“ga lucu!!! Pokoknya kamu udah ngecewain aku, titik!!”

“yah.. terus gimana dong beb?”

“kamu tu ga pernah berubah ya? Selalu dan selaluu aja ngecewain aku. Kemaren sore pas aku ajakin jalan kamu bilangnya sibuk ngerjain tugas Animasi, nyatanya pas aku telpon mama kamu, dia bilang kamu lagi ngerjain tugas bikin program. Kamu tuh pembohong!!”

“Yaelah.. kan intinya sama aja beb, lagi ngerjain tugas. Lagian mama mana bisa ngebedain aku lagi ngerjain animasi atau bikin program? Mencet remote TV aja gaptek banget, ga pernah bisa nemu tombol power”

“Ya pokoknya hari ini kamu udah ngecewain aku!! Coba kalo tadi janjinya jemput aku di rumah aja, jadi kan aku nungguinnya ga perlu harus lumutan di bangku taman kayak gini?”

“beb, bebeb kan tau aku belum siap ktemu sama bokapnya bebeb .. Beliau tu dosen aku, dan beliau tu kayaknya masih dendam sama aku gara gara dulu aku pernah main lempar lemparan penghapus ga sengaja kena kepalanya yang pitak itu beb”

“Makanya aku bosan backstreet-an gini!! Kamu tuh nyebelin, ga pernah ngerti perasaan aku!!”

“Yaudah beb, kalo bosan backstreet kita pindah ke jalan di depan aja ya?”

“Garing. Kamu tu GA LUCU!!”

“Yah... terus kamu maunya apa beb?”

“Aku mau mulai detik ini kita PUTUS!!”

“lah, kok putus beb? Cuma gara gara kamu kecepetan datang ke taman ini?”

“POKOKNYA AKU MAU PUTUS. TITIK!! Ga boleh disambung lagi”

“titik tu cuman akhir dari kalimat beb, masih ada kalimat berikutnya, masih bisa disambung. Kalaupun ia merupakan akhir dari paragraf, masih bisa disambung dengan paragraf berikutnya. Jangan putus beb, aku tu sayang banget sama bebeb”

“yaudah, AKUMAUPUTUSTITIKHABIS”

“apa maksudnya itu beb?”

“iiiih... itu tu bahasa telegram, titikhabis artinya ga boleh disambung lagi. Akhir dari pesan di telegram”

“oo.. gitu ya beb? Kamu ni kelahiran taun berapa sih? Kok bisa bisanya tau masalah telegram? Itu kan alat komunikasi jadul?”

“tuh kan.. tuh kaaan... kamu tuh jahhat!! Ngatain aku tua!! Kalo mau yang muda tuh sana pacaran sama anak playgroup”

“hahaaa... yeee bebeb ngambek.”

“ga ngambek, aku marah, aku mau putus!!”

“yaah.. sayang bangeet. Padahal ini aku baru dikasih voucher belanja 500 ribu di butik punya tante aku, katanya kasihin buat pacar aku. Kalo kita putus aku jomblo dong, ga punya pacar dong.. trus vouchernya aku kasihin siapa?”

“Eh, masa sih cowo seganteng kamu jomblo? Kebetulan aku juga jomblo nih.. mungkin asik kali ya kalo kita berdua bekerja sama bikin rencana supaya status kita sama sama ga jomblo lagi?”

“ahahaaaa... dasar bebeb, jalan yuk!”

“hehehee ayuk... oiya ngomong ngomong, butik tante kamu jauh gak dari sini?”

Kedua sejoli yang baru saja putus dan jadian lagi itupun berlalu meninggalkan bangku taman sendiri. Sudah tak terlihat orang yang ingin duduk di sana, mereka telah pergi mungkin untuk kembali ke rumah masing masing. Matahari pun perlahan menghilang dari celah pepohonan di arah barat. Siang akan berganti malam, aktivitas di taman akan terhenti sejenak. Tak lama lantunan azan magrib mulai berkumandang, bangku taman lega karena hari ini ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa ada meninggalkan rasa kecewa bagi orang orang yang duduk di atasnya selama seharian tadi.

HAYYA LAL FALAAH.....”
Marilah menuju kemenangan, sang bangku taman diam dan begitu khusyuknya mendengarkan lantunan merdu suara azan tersebut. Ia tau kalau seruan tersebut hanya diperuntukkan bagi manusia, seruan untuk sholat, untuk menuju kemenangan, untuk mengakui bahwa Allah sebagai sang pencipta itu maha besar. Dan tidak ada Tuhan selain Dia. Itulah jalan menuju kemenangan bagi umat manusia. Tapi bangku taman sadar, ia bukanlah manusia.

Bangku taman diciptakan bukan untuk berbakti pada Allah, mengikuti perintahNya ataupun menjauhi laranganNya. Ia diciptakan untuk memberikan rasa nyaman bagi orang orang di taman. Membantu para manusia untuk melepaskan rasa penat mereka. Itulah arti jalan kemenangan bagi dirinya. Melaksanakan apa yang ditugaskan untuk dirinya dengan sebaik baiknya.

Malam telah tiba, dan taman ditutup karena bertepatan dengan malam jum’at. Saat bangku taman berpikir kalau tugasnya hari ini sudah selesai, nampak seekor kucing tua berjalan menghampirinya. Dari kusamnya corak dan jarangnya bulu bulu di tubuhnya, terlihat kalau kucing itu sudah begitu renta. Tatapan matanya sayu, di daerah telinga kiri masih terdapat luka kecil yang menganga. Mungkin itu ulah manusia, atau bisa juga karena bertengkar dengan kucing lainnya. Ada rasa miris dalam hati Bangku Taman melihat kondisi kucing tersebut, seandainya ia memiliki tangan ingin rasanya ia membelai lembut kepala kucing itu untuk sekedar memberikan perhatian dan kasih sayang. Tapi lagi lagi ia sadar kalau ia bukanlah manusia. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu apakah kucing itu mau naik dan berbaring di atasnya, untuk melindungi sang kucing dari dinginnya tanah di malam hari.

Sang kucing ternyata memang berencana untuk tiduran di atas bangku dan segera melompat ke sana. Bangku taman begitu girang, bahkan di waktu taman tutup pun ia ternyata masih bisa berguna bagi makhluk hidup lain. Dan ia bangga akan hal tersebut.

Kucing tadi adalah penutup dari tugasnya untuk hari ini. Besok, Lusa dan seterusnya masih banyak lagi manusia ataupun hewan lain yang memerlukan jasanya. Perjuangannya untuk menjalankan tugas takkan pernah berhenti hingga nanti tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Bangku taman tau, sebelum hal itu terjadi yang bisa ia lakukan adalah melaksanakan tugas yang diberikan dengan sebaik baiknya. Sisanya biar sang penciptanya yang menentukan akan seberapa lama ia ditugaskan di sana. Ketika mengingat fakta bahwa esok tubuhnya masih mampu untuk menjalankan tugas, bangku taman begitu bersemangat. Esok akan ada cerita baru lagi, entah bahagia atau sebaliknya. Dan apapun itu, bangku taman selalu siap untuk menjalankan tugasnya.

Bangku Taman (Bab1) Bangku Taman (Bab1) Reviewed by Arif Rahman on 8:32:00 PM Rating: 5

8 comments:

Tosca. Powered by Blogger.