Who Moved My Cheese; Jangan takut pada perubahan, jangan takut meninggalkan Zona Nyaman

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah buku yang pernah aku baca dulu, yang aku pinjam dari temanku. Dan kemarin disegarkan kembali saat manajer perusahaan tempat aku bekerja memutarkan video tentang cerita "Who Moved My Cheese" ini saat rapat bulanan.

Who Moved My Cheese, adalah sebuah cerita sederhana tentang 4 makhluk yang berada di dalam labirin. 2 diantaranya adalah tikus ( Sniff dan Scurry ) dan 2 lainnya adalah kurcaci ( Hem dan Haw ). Ke empat makhluk kecil tersebut mempunya kesamaan, yakni sangat menyukai Cheese (keju).
Sniff adalah tikus yang memiliki indera penciuman yang hebat, ia bisa mengendus dan menangkap perubahan dengan cepat. Sementara Scurry, meskipun penciumannya tidak sebaik Sniff, namun ia adalah tikus yang cepat bertindak dengan mengandalkan nalurinya.
Berbeda dengan kedua tikus tersebut, Hem dan Haw dibekali dengan otak yang mampu berpikir, mampu menganalisa segala sesuatunya dan juga dibekali dengan emosi serta perasaan.



Selama ini mereka hidup bahagia dalam salah satu sudut labirin karena di sudut itu tersedia Stok Cheese yang begitu melimpah dan tentunya sangat memanjakan hari hari mereka.
Waktu terus berlalu, Sniff mulai mengendus kalau Cheese mereka sekarang sudah berbeda dari saat mereka pertama menemukannya dulu. Cheese mereka sedikit demi sedikit mulai berjamur, dan tidak seenak dulu lagi. Dan yang paling parah, Cheese mereka ini semakin hari semakin berkurang. Tentunya suatu saat nanti akan ada masa dimana persediaan cheese itu akan habis sama sekali.
Bersama Scurry, Sniff mulai menyusuri lorong labirin yang gelap untuk mencari cheese baru. Mereka sadar kalau hal tersebut penuh bahaya. Mereka tidak akan pernah tau kemana mereka akan melangkah, namun satu yang mereka tahu. Jika mereka terus berada di sana, Mereka mungkin tidak akan bisa menikmati Cheese lagi.
Berbeda dengan Hem dan Haw, mereka terlalu manja dengan stok Cheese melimpah yang ada di sana. Mereka tidak peka terhadap perubahan kecil yang terjadi setiap harinya. Dalam pikiran mereka sudah tertanam, setiap hari jika mereka pergi ke sudut itu maka akan ada Cheese yang telah disediakan untuk mereka. Merekapun menjadi lengah karena sudah merasa aman. Karena sudah terjebak dalam Zona nyaman.

Suatu hari hal buruk itu benar benar terjadi. Stok Cheese mereka benar benar sudah habis !! Hem dan Haw panik... mereka tidak siap.
Mereka mulai menyalahkan orang lain dan terus menerus bertanya: WHO MOVED MY CHEESE?? mereka terus menyalahkan dan menuduh kalau ada yang memindahkan Cheese mereka. Mereka mengutuk hal ini, mereka merasa seseorang telah mengambil hak mereka. Dan itu sangat tidak adil.
Keesoka harinya, mereka kembali ke sudut itu dan berharap Cheese mereka sudah dikembalikan. Namun yang mereka dapat hanya harapan kosong. Cheese di sana memang sudah habis, dan tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi.

Perlahan Haw mulai sadar akan situasi tersebut. Iapun mulai membuka pikiran untuk menelusuri lorong labirin yang gelap dan berbahaya, namun semua terhalang oleh rasa takut. Akan tetapi ia tetap memilih untuk menelusuri lorong tersebut, dengan harapan bisa mendapatkan Cheese baru di luar sana. Memang tidak ada jaminan apakah ia akan berhasil menemukan Cheese baru di sana, namun sudah ada jaminan kalau ia tidak akan mendapatkan Cheese lagi jika ia masih saja terpaku dan tak beranjak dari tempat ini.
Haw mencoba mengajak Hem untuk pergi dari sana dan mencari tempat baru. Namun Hem tetap tidak mau meninggalkan tempat kesayangannya itu. Ia percaya kalau Cheese nya dulu hanya terselip di balik tembok, ia mencoba melobangi tembok tersebut dan kembali bersedih karena cheesenya tidak ada di sana. Ia semakin mengutuk orang yang memindahkan Cheese miliknya. Ia merasa tidak pantas menerima ketidak adilan ini.

Akhirnya Haw pun pergi seorang diri dengan membawa harapan. Ia menelusuri lorong lorong gelap nan sempit di labirin tersebut, sempat beberapa kali ia tersesat maupun terjatuh. Namun ia tetap bangkit dan berusaha, hingga akhirnya ia menemukan lagi satu sudut baru yang diisi begitu banyak Cheese. Bahkan Cheese yang ia temukan sekarang jauh lebih enak dibandingkan cheese nya yang terdahulu.
Ia sadar, tidak ada kata terlambat untuk merespon perubahan. Namun semakin cepat kita berhasil membaca perubahan, semakin siap pula kita untuk bergerak saat perubahan itu terjadi, dan kita tidak akan sempat merasakan penderitaan dengan adanya perubahan tersebut.

Kisah di atas hanya versi singkatnya saja. Jika kalian ingin cerita yang lebih detail mungkin bisa cari dan baca sendiri bukunya yang berjudul "Who Moved My Cheese" karangan Spencer Johnson, M.D.

Cerita ini bisa menjadi inspirasi dalam kehidupan. Dimana kita harus peka untuk menangkap perubahan. dan dikala perubahan itu terjadi, segera cari Cheese baru. Jangan buang waktu untuk mencari penyebab ataupun siapa yang pantas disalahkan. Berada di zona nyaman memang menyenangkan, hanya saja kadang rasa nyaman tersebut bisa membuat kita menjadi lengah. Dan kemudian malah terperosok saat terjadi perubahan.

Cerita ini bisa diaplikasikan pada pekerjaan. Kadang kita terlalu takut meninggalkan pekerjaan kita yang sekarang, takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain lagi setelah ini.. Padahal pekerjaaan yang sekarang pun tidak bisa sepenuhnya menentramkan dan memenuhi kehidupan kita sehari harinya secara pas pasan saja. Padahal di luar sana banyak jalan untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup.
Cerita ini juga berlaku pada asmara; Ada beberapa orang yang memaksa untuk tetap mempertahankan hubungan mereka karena terlanjur merasa nyaman. Padahal di dalam hati mereka mereka sadar kalau hubungan atau "Cheese" mereka ini sudah tak seperti dulu lagi. Cheese mereka sudah ditumbuhi jamur dan cepat atau lambat suatu saat nanti pasti akan habis. Mereka seperti menutup mata dan tidak mau menatap Cheese baru mereka yang sebenarnya ada dan lebih baik.

Cheese baru itu sendiri mungkin tak selamanya berarti orang yang baru atau pekerjaan yang baru. Bisa jadi Cheese baru itu adalah perilaku dan pola pikir kita yang harus diperbaharui. Melakukan kebiasaan kebiasaan lama yang monoton bisa jadi akan membuat cheese kita menjadi cepat berjamur. Terus berinovasi dan terus berkarya adalah salah satu cara untuk menghasilkan cheese cheese baru. Memperbaiki sifat sifat buruk kita dan berhenti menuntut pasangan untuk menjadi yang kita minta juga merupakan cara agar cheese kita tidak cepat kadaluarsa. Intinya, kita harus selalu siap dengan perubahan. Hidup adalah sesuatu yang terus berubah, Jika kita tidak berubah maka kita akan punah.

Sedikit kutipan dari buku tersebut yang kuambil dari pengantar A.J. Cronin:

"Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui dimana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan,
namun berupa jalan jalan sempit yang menyesatkan, dimana kita harus mencari jalan,
tersesat dan bingung, sekarang dan sekali lagi kita sampai pada jalan tak berujung.
Namun jika kita punya keyakinan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita.
Mungkin bukanlah pintu yang selalu kita inginkan,
Namun pintu yang akhirnya akan terbukti terbaik untuk kita"
Who Moved My Cheese; Jangan takut pada perubahan, jangan takut meninggalkan Zona Nyaman Who Moved My Cheese; Jangan takut pada perubahan, jangan takut meninggalkan Zona Nyaman Reviewed by Arif Rahman on 11:52:00 PM Rating: 5

1 comment:

Tosca. Powered by Blogger.