Apa Yang Salah Dari Pendidikan Kita?



Mumpung masih tanggal 2 mei nih, ga ada salahnya nulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan kaitannya dengan masa depan seseorang. Sebelumnya, dengan segala kerendahan hati. Saya menulis ini bukan karena paksaan atau juga karena ingin cari perhatian. Hanya sedikit ingin menghilangkan ganjalan pada rongga pernafasan.
Sebelum saya  menulis lebih lanjut, mungkin ada baiknya kita flashback sejenak untuk mengunjungi tulisan saya di masa lalu tentang UNTUK APA KITA SEKOLAH? (silahkan klik kalimat dengan huruf kapital tersebut untuk membacanya).
Nah, kalau sudah. . . Silahkan lanjut membaca tulisan saya di bawah ini.


Sebenarnya tulisan kali ini terilhami dari perkataan salah seorang teman saya, yang kalau diterjemahkan kurang lebih pernyataannya seperti ini:
"Jangan anggap dia lebih bodoh dari kita. Meski mungkin IQ nya dibawah kita, tapi penghasilannya lebih besar dari kita. Artinya DIA LEBIH PINTAR dari kita. Lebih pintar dalam hal mencari uang yang pastinya"
Sejenak aku merenung.. perkataan temanku tersebut ada benarnya. Meski uang bukanlah hal paling utama yang kita cari dalam hidup, namun tak dapat dipungkiri.. tanpa uang, segala sesuatunya tidak akan berjalan dengan lancar, bahkan mungkin tidak jalan sama sekali. Seseorang bisa dikatakan sudah menjadi orang yang sukses, kalau dia sudah bisa hidup dengan harta yang berkecukupan. (tapi takaran berkecukupan itu berbeda beda menurut tiap orang loh ya..)
Jadi kesimpulan sementara adalah:
Kepintaran kita haruslah juga bisa dimanfaatkan untuk mengangkat derajat kita. Harus bisa "dijual" dan menghasilkan uang agar kita bisa menjalani siklus hidup dengan lancar. Agar kita lebih mudah untuk menggapai mimpi-mimpi kita.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan kepintaran tersebut?
Semenjak kecil, kita pasti dapat nasihat seperti ini: "KALAU MAU PINTAR, HARUS RAJIN BELAJAR"
Yap, itu benar sekali... Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut.
Nah, Jika harus ditanyakan Dimanakah sarana pembelajaran Paling tepat untuk mengajarkan anak-anak agar menjadi pintar?
Para orang tua pasti sepakat, untuk menjawab dengan "Sekolah"
Saya pun setuju. Anak-anak memang harus bersekolah. Harus disekolahkan. Sekolah adalah sarana pendidikan terbesar yang pernah diciptakan, di sekolah anak diajarkan banyak hal, bukan hanya sekedar berhitung, membaca, namun juga tentang tata krama dan perilaku. Iya, Anak-anak memang butuh semua itu.
Namun herannya, ternyata anak anak yang mampu berprestasi di sekolah tidaklah menjamin hidupnya ke depan akan lebih sukses dibandingkan mereka yang prestasinya biasa biasa saja di sekolah. Tanya kenapa?? ini fakta!!!
Lalu, jika mereka yang berprestasi di sekolah tak mutlak bisa menjadi orang sukses, apakah itu berarti sekolah tak dapat menjadi acuan untuk mengukur tingkat kepintaran seseorang? ataukah tim pendidik kita yang salah dalam melakukan penilaian? atau justru ternyata sistem pendidikan kitalah yang selama ini sumber utama kesalahannya?

Kembali saya harus mengutip pernyataan salah seorang teman lagi: "Ada orang yang pintar akademik, ada yang pintar skill"
Atau mungkin saya harus menggunakan bahasa salah seorang motivator penulis buku mega best seller: " Ada orang yang nganan, ada juga yang ngiri (ada yang dominan menggunakan otak kanan, dan ada juga yang menggunakan otak kiri)"
Kalau Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah: "ada yang suka berpikir, dan ada yang suka berimajinasi"
Lalu pertanyaannya: yang manakah diantara kedua tipe tersebut yang lebih berpotensi untuk sukses?
Jawabannya, sama.
Tuhan sudah menciptakan manusia dengan segala keanekaragamannya agar bisa dapat saling melengkapi. Setiap orang berhak untuk sukses di bidang dia, dengan cara dia. Kita tidak dapat memaksakan seseorang harus bisa menjadi ini, harus bisa menjadi itu. Semua punya jalannya masing-masing.
Tipe pemikir mampu menganalisa suatu keadaan dan memprediksi suatu kejadian melalui perhitungan akurat dan juga pengumpulan data maupun fakta. Sementara sang Imajinator mampu menginovasikan dan juga mengkreasikan sesuatu yang dapat membawa perubahan positif bagi dia maupun lingkungannya. Kedua tipe ini bisa sukses... asal.. rajin belajar dan rajin mengasah skill, serta fokus pada kelebihan mereka.

nah... pertanyaannya,
Bisakah semua ini didapatkan dari sekolah?
Berita buruknya. pada sekolah-sekolah formal, ternyata para siswa secara tidak langsung dipaksa untuk menjadi golongan pemikir saja. Lihat saja porsi pelajaran yang menggunakan otak kiri jauh lebih dominan dibandingkan pelajaran otak kanan. Saya berani bertaruh, jam pelajaran matematika pasti lebih banyak dibandingkan dengan pelajaran kesenian dalam satu minggunya. Banyak diadakan lomba matematika pada sekolah-sekolah tinggi, tapi lomba menggambar? paling hanya di playgroup sampai SD saja.
Akibatnya anak yang sesungguhnya berpotensi besar di bidang imajinasi malah terhambat pertumbuhannya dan malah dipaksa untuk ikut jalur para pemikir. Sangat disayangkan memang.
Anak yang dominan otak kiri boleh sedikit berlega hati karena sistem pendidikan lebih cocok dengan karakter mereka. Namun, berita buruknya lagi, ternyata dalam hidup ini tidak semua hal rumit yang diajarkan di sekolah bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Saya jadi teringat pada kutipan  sebuah film korea: "aku yakin, 10 tahun lagi hidupku akan baik baik saja. Meskipun aku sama sekali tidak tahu apa itu logaritma"
Sebuah kutipan yang begitu mengena.
Hidup yang sesungguhnya ternyata lebih sederhana. Hanya ada beberapa hal penting yang perlu dikuasai untuk bisa bertahan di sana. Matematika dasar, Bahasa, dan sikap yang baik.
Namun untuk menjadi istimewa, kita harus pandai pandai mengasah kelebihan. Tetapi sialnya lagi, ternyata semasa di sekolah kita seperti difokuskan untuk memperbaiki kelemahan. Bukan mengasah kelebihan!

Anggap saja ada salah satu siswa yang memiliki nilai bahasa inggris 9, sementara matematikanya 6. Sang guru pasti akan fokus untuk memperbaiki nilai matematika muridnya itu menjadi minimal 7, sementara bahasa inggris tidak mendapat perhatian lagi karena dianggap bagus dan aman. Seandainya guru tersebut fokus untuk meningkatkan kelebihan anak didiknya, dia pasti akan lebih memperhatikan nilai bahasa inggris siswa tersebut untuk membuat nilainya menjadi 10. Siswa tersebut akan menjadi sangat istimewa dan mungkin akan dikenang untuk waktu yang lama, walau nilai matematikanya hanya 6.
Hal yang saya tuliskan di atas itu fakta! diselenggarakannya Ujian Nasional (UAN) adalah salah satu buktinya.
Dalam ujian nasional, biasanya ada batas nilai terendah untuk mencapai nilai kelulusan.
Kita ambil contoh penetapan kelulusan adalah sebagai berikut: dari ketiga mata pelajaran, tidak boleh ada nilai di bawah 6,5 dan nilai rata ratanya minimal 7.

Sekarang kita analisa kasus nilai bahasa inggris dan matematika siswa diatas tadi.
Siswa yang memperbaiki nilai matematika, akhirnya berhasil mendapat nilai 7 dan bahasa inggris 9. ia lulus!! namun ia tidaklah istimewa. Banyak siswa lain yang juga memiliki nilai seperti dia.
Siswa yang memperbaiki nilai bahasa inggrisnya, akhirnya mendapatkan nilai istimewa yang begitu sempurna. 10. Namun ia tidak lulus karena nilai matematikanya yang cuma 6 berada di bawah batas kelulusan.
Ini tidak adil....
Padahal, dalam kehidupan yang sesungguhnya seseorang yang istimewalah yang lebih berpotensi untuk meraih kesuksesan.

Okay, sekarang kita kembali membahas paragraf 2 di atas. Tentang kepintaran mencari uang.
Ada banyak kisah para orang sukses yang ternyata justru menimpa pada orang yang berpendidikan rendah, sebut saja bill gates, mark Zuckerberg, Bob Sadino, atau bahkan Andri Wongso sudah membuktikan kalau mereka bisa sukses meski tanpa ijazah tinggi.
Kesuksesan mereka lebih dikarenakan karena kepintaran mereka, untuk membuat mereka menjadi istimewa. Fokus pada keahlian, dan meningkatkannya dengan terus belajar. Bukan dari bangku sekolah, tapi dari pengalaman.

Mungkin sekarang anda berpikir Saya adalah seorang yang tidak menganggap pendidikan itu penting.
Salah!!
Pendidikan itu tetap penting menurut saya, bukankah ada pepatah yang mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina? yang sedikit saya keluhkan disini adalah lemahnya sistem pendidikan kita dalam menemukan dan mengelola potensi dalam diri para siswanya. Kreatifitas mereka terlanjur di-mati-kan pada waktu sekolah. Dan mereka baru bisa sedikit membuka sayap ketika sudah lulus sekolah. Agak terlambat, kalau menurut saya.
Alangkah baiknya kalau sedini mungkin kita bisa menggali potensi dalam diri anak, membimbingnya, mendukungnya agar kelak ia bisa menjadi istimewa di jalur dia, bukan memaksanya untuk mengikuti jalur orang kebanyakan.

(tulisan ini  bersambung,,,  dikarenakan saya sudah ngantuk. hahaha)
Apa Yang Salah Dari Pendidikan Kita? Apa Yang Salah Dari Pendidikan Kita? Reviewed by Arif Rahman on 1:10:00 AM Rating: 5

3 comments:

Tosca. Powered by Blogger.