This is not a Love Story


"This is a story of a Boy meets girl. but you should know upfront, this is not a Love Story" 


Sebelumnya aku minta maaf kalau kalimat pembukanya mirip dengan kalimat pembuka salah satu drama romcom yang rilis di tahun 2009 lalu. Bukan bermaksud menjiplak, aku hanya mengutip saja (pikirin sendiri bedanya). Okey, dalam tulisanku kali ini aku memang akan menceritakan sebuah kisah. Sesuai kutipan di atas, Ceritaku ini bukan mengisahkan sebuah kisah cinta, dan bukan pula kisah tentang cinta. Di kisah ini Aku memang akan bertemu dengan seorang wanita, tapi tetap kisah ini hanya sebatas kisah biasa, yang bahkan mungkin tanpa makna.

Kisah ini berawal di hari kamis malam. Tak seperti malam-malam biasanya, pada malam itu pukul 20.00 aku sudah terlelap di atas tempat tidurku yang empuk itu karena memang besok paginya aku harus menghadapi peristiwa megapenting yang mungkin dapat mengubah cerita perjalanan hidupku secara keseluruhan. Sial bagiku, karena terlalu mencemaskan apa yang akan terjadi esok hari tidurku jadi tak karuan. Puncaknya pada pukul 23 lebih, aku terjaga...

Oh, maaf aku salah. Kisah ini bukan berawal dari kamis malam, tapi lebih awal lagi di kamis siang. Seperti biasanya setiap hari kamis aku ada jadwal latihan futsal. Tapi entah kenapa, siang itu aku sama sekali tidak bergairah untuk  ikut latihan. Pada akhirnya aku memang bolos dan memilih untuk beristirahat di rumah.
Ringtone ponselku berbunyi.. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal. isinya kurang lebih begini: menindak lanjuti surat lamaran Sdr pada perusahaan xxx maka kami dengan ini mengundang Sdr untuk mengikuti test dan interview tanggal 16 maret 2012 pukul 08.30 bertempat di Jl xxxx"
perlu diketahui, hari ini adalah tanggal 15 dan itu berarti tesnya akan dilangsungkan besok!!

Pukul 23.14 aku terjaga.  Dalam hati aku sangat gelisah karena aku tau aku tidak akan bisa segera dapat tidur lagi dalam waktu dekat, sementara besok aku harus menyiapkan fisik juga pikiran supaya bisa 100% saat tes nanti. Singkat cerita malam hari itu aku baru bisa tertidur lagi pada pukul 04.00
**
Kami berempat tertawa, masing masing memang sudah menyelesaikan 30 soal dari tes yang ke 4 itu. Hebatnya tak satupun jawabanku yang aku yakini kebenarannya. Begitu pula ketiga sainganku ini. Ya, kami tertawa karena ujian terakhir ini luar biasa sulitnya. menyangkut soal Akuntansi, tentang diskonto, retur pembelian atau apalah.. sesuatu yang telah aku lupakan sejak 6 tahun yang lalu.
Mendengar keributan tersebut staff HRD pun datang dan mengumpulkan jawaban kami.
"mengingat waktu sudah hampir sampai pada sholat jum'at maka interviewnya akan dilaksanakan lain hari saja, tunggu pemberitahuan selanjutnya. Aku sarankan nomor ponsel kalian tetap aktif." ujarnya.

Sebenarnya 3 tes sebelumnya aku sangat yakin dengan jawabanku, tes pertama soal matematika, tes kedua tes visual dengan menebak gambar yang berbeda, tes ketiga bahasa inggris yang dipadukan dengan matematika semuanya bisa aku lalui dengan sangat baik dan percaya diri. Namun Tes ke empat seperti merupakan kartu matiku, kucoba menghibur diri dengan memperhatikan wajah ketiga sainganku yang ternyata juga terlihat sama stressnya denganku. Kemudian aku duduk santai sambil meminum minuman yang ada di atas meja. Melihat kelakuanku ketegangan mereka jadi sirna. Kamipun tertawa bersama dan saling mengakui kalau soal ini sulit sekali. Alhasil, semua soal pilihan ganda itu akhirnya kami kerjakan dengan asal asalan saja.

Oh, sepertinya aku lupa memperkenalkan ketiga orang itu. Baiklah kalau begitu aku akan bercerita kembali dari
jum'at pagi
Pukul 08.25 aku sudah sampai di kantor perusahaan tersebut,
iya. Aku adalah orang pertama yang mengisi daftar hadir disana. Yang datang berikutnya adalah seorang pria berkacamata, seperti seorang tipe Akunting sejati. ia tersenyum ramah ketika menjabat tanganku.
Yang datang selanjutnya lagi cukup menarik perhatianku, seorang gadis manis berjilbab dengan wajah yang "baby face" (istilah ini aku pinjam atas dasar kenarsisan dia sendiri pada saat pertemuan kami berikutnya).
Peserta tes terakhir agak terlambat datang. Ia merupakan pria pendiam yang jarang bicara, tapi aku tau dia punya sesuatu dalam dirinya.
Awalnya kupikir mereka merupakan saingan, tapi aku baru sadar kalau kami ternyata melamar untuk posisi yang berbeda. Dengan kata lain, kami bisa menjadi rekan. Terkecuali si baby face ini, ternyata ia melamar di posisi yang sama denganku. Masa aku harus bersaing dengan dia? Kelihatannya sainganku cukup berat, tapi kalaupun kalah olehnya sebenarnya aku rela saja.

Jum'at malam.
Tak sengaja membuka folder movies di laptop dan tertarik untuk memutar lagi film favoritku (500) days of summer. Bagian endingnya membuatku berpikir apakah si baby face adalah perwujudan Autumn yang ditakdirkan Tuhan untuk mengisi hariku selanjutnya? tadi memang aku tak sempat berbincang banyak dengannya. Tapi jika kami sama sama lolos ujian tertulis nanti pasti akan ada panggilan lagi untuk interview dan akan ada pertemuan lagi dengannya.

Sabtu sore,
Ada panggilan lagi untukku. Yap, aku lulus tes tertulis! aku diundang lagi untuk interview di hari senin jam 08.30. Entah kenapa aku berharap 3 sainganku teman baruku itu (terutama si baby face) juga sama-sama dipanggil.

Senin pagi
Aku kaget melihat sudah ada 3 orang menunggu giliran untuk interview, bukan ketiga orang yang aku kenal sebelumnya. melainkan orang yang benar benar baru. Tapi Hatiku sedikit lega begitu melihat si cowok pendiam juga datang tak lama setelah aku, dilanjutkan dengan kedatangan cowok berkacamata selang beberapa menit kemudian. Kamipun langsung mengobrol dengan akrabnya seperti teman yang sudah kenal lama. Meski dalam hatiku masih ada yang mengganjal.
Satu demi satu dari kami dipanggil masuk ruangan untuk interview, suka atau tidak ternyata situasi itu membuat hatiku galau. Tidak hanya karena gugup menghadapi interview tapi juga karena alasan lain..
Sudah jam 09.00 tapi si baby  face belum muncul juga, aku sempat berpikir mungkin ia gagal dalam tes tertulis kemarin. Dalam hati aku agak menyesal kenapa kemarin tak meminta nomor ponselnya. Kesempatan jarang datang dua kali.
Tapi kegalauanku akhirnya sirna, si baby face munjul di jam 9 lebih dikit. Aku langsung menggodanya dan bilang kalau dia telat. Ia hanya tersipu dengan senyum polosnya itu.
Yang pertama dipanggil dari kami adalah si cowok pendiam, luar biasa. ia melamar untuk posisi marketing yang kita ketahui harus diisi oleh orang yang pandai bicara. Hebatnya, ternyata ia lulus dan akan bekerja di tanggal 1 nanti.
Kemudian Si cowok berkacamata.. agak lama ia di dalam sana. Begitu keluar ia bilang masih menunggu panggilan lagi di lain hari
Lalu aku,, Si baby face memandangku. Iya, kami saingan sekarang! Aku tersenyum dan berkata kepadanya "doakan aku ya?" ia tertawa.
Interviewku sendiri berjalan cukup singkat. Dengan hasil.... masih akan diproses, tunggu panggilan berikutnya.
Si baby face menyuruhku jangan pulang dulu, ia perlu teman untuk menunggu. Okey,, aku tungguin. Kamipun mulai mengobrol.
Kupikir mungkin nanti dialah yang akan diterima untuk posisi itu, mengalahkan aku.
Tiba saat dia dipanggil, dan ternyata interviewnya  juga berjalan singkat dengan hasil yang sama seperti aku. Sepertinya untuk posisi yang berhubungan dengan keuangan memang perlu proses, sementara untuk level marketing langsung di terima.

Selesai sudah interview hari ini. yang tersisa disana hanya kami berdua. Jam setengah 11
"aduh, aku harus kemana dulu ya? aku harus jemput temanku selesai kuliah jam 12 nanti. kalau pulang dulu tanggung banget" si baby face kelihatan bingung.

Jika saja peristiwa ini terjadi beberapa waktu lalu, saat badai di musim panas (summer) sedang merajalela maka aku pasti akan mengajaknya makan siang ataupun juga pergi ke suatu tempat dulu. Sepertinya dia memang Autumn. Namun sayang... Autumn baru bisa hadir setelah summer berakhir. Dan dalam hidupku, saat ini Summer adalah musim terindah yang tidak ingin aku lewatkan. Dan kuharap musim ini takkan pernah berganti.

Pada akhirnya, aku cuma bilang: Waduh, maaf aku harus latihan futsal jam 11 ini.
This is not a Love Story This is not a Love Story Reviewed by Arif Rahman on 6:05:00 PM Rating: 5

7 comments:

  1. ciee..ada yang curcol nihh..:p

    hmm..kayanya aku ngerti maksud yg paragraf terakhir ituu...hihihi..:p
    walopun kada pernah nonoton filmnya lagii...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. umm.. hahahaa ketahuan.
      tapi kenapa yo kaya masih ada rasa yang tetinggal di hati neh... kya ada penyesalan tuh
      lawas kada merasakan rasa kaya ini

      Delete
    2. nahhh..nahh..
      mulaii pina hndak benakal tee..:D

      wajar aja png kalo punya perasaan kaya itu ko ae..tapi anggap itu intermezo aja..:)
      tetep komitmen koko itu lebih penting loo...hihihi..:p

      Delete
    3. kdnya benakal pank..
      aku sadar rasa kaya itu cuman rasa penasaran aja,

      mungkin wajar kalo manusia tu pengen yang baru dan bosan lawan yang lama.. tapi bila berpatokan lawan itu kdd habisnya ae.. rasa itu kd mungkin abadi karena suatu saat pasti akan ada lagi yang baru.

      tapi merasakan lagi rasa itu kaya... kyp yo lah? asik ae...

      Delete
    4. haha..bujur jua..:)
      perasaan kya itu manusiawi..wajar ajaa,asal kd berlebihan..hehe

      Delete
  2. Aaaaahhh suka sama balasan terakhir diatas..heheheheh...membaca sepintas dulu nah...ntr baru lebih dihayati :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaa.. jgn telalu dihayati gen. *jadimalu

      Delete

Tosca. Powered by Blogger.