Sebuah cerita di sebuah Mall




Minggu, 9-10-11

Aduh.. penat sekali rasanya kakiku ini. Berkeliling-keliling ga karuan selama 1 jam setengah membuat kakiku serasa mau copot. Belum lagi masalah lututku yang belum pulih benar dari cedera yang kudapat saat latihan futsal kamis kemarin membuat aku merasa mati rasa pada bagian bawah tubuh. Kulirik jam, masih jam 14.20 artinya masih duapuluh menit lagi film yang akan kami tonton baru dimulai. Uh.. ingin rasanya aku duduk barang sebentar, tapi di toko buku ini semua tempat duduk buat para pengunjung sudah terisi semua. Kulihat kedua temanku pun juga sepertinya memiliki perasaan yang sama denganku. Ah.. harusnya tadi kami santai saja dulu duduk duduk di tempat makan lantai atas tadi. Tapi salah seorang temanku malah mengajak ke toko buku ini. Katanya bisa duduk sambil baca-baca .. tapi....


Ini minggu coy!!

Sudahlah, kami langsung ke atas saja. waktu duapuluh menit tak akan terasa lama mengingat apa yang sudah kami lalui tadi. Sambil duduk nyeker di depan studio 4 melepaskan penat di kaki ini. Ada perasaan baru mewarnai tubuhku.. ya, selain penat ternyata aku juga sangat mengantuk. Baru nyadar kalau malam tadi jam tidurku sangat kurang untuk ukuran manusia normal. Kulirik lagi tiga tiket di tanganku “The Sorcerer and the White Snake” pukul 14.40 agak heran kenapa aku setuju waktu mereka memutuskan untuk menonton film ini, dilihat dari judul dan posternya saja aku sudah bisa menebak jalan ceritanya seperti apa. Tapi tak apalah, toh aku masih punya banyak waktu dan.. um.. dana untuk menonton film lain di kemudian hari.
Dan, ternyata mataku sudah tak bisa kompromi lagi.. mengantuk, sangat!!

“Pintu Theater 4 telah dibuka. bagi penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk masuk”

Ok, selamat tidur semuanya....

** ** **

Dua jam tiga puluh menit sebelumnya...

“hayo.. hayo... film apa nih??”

“ada smurf, final destination, abduction, hantu pacar perawan,  green lantern, jet lee, triangle,  atau pirates?”

Meski dari pribadi lebih condong ke Abcuction atau Triangle,  tapi aku diam saja. Biarkan mereka yang memilih. Toh, aku penggemar semua genre film yang tersedia itu. Ups, ralat. Kecuali pacar hantu perawan.
Mereka masih saja berdebat. Sementara antrian di depan loket udah kayak ular naga aja panjangnya.

“hey, kalian.. daripada debat dan buang waktu disini, mending antri dulu. Debatnya sambil antri aja”

Akhirnya aku dan seorang temanku ikut antri juga. Sementara yang satunya menggiring di samping. Kami masih berdebat tentang film apa yang akan ditonton. Pusing juga mendengar mereka berceloteh dan bertanya tanya film film itu ceritanya seperti apa. Mana aku tau? Kan aku belum nonton?
Kucoba menghitung berapa banyak orang yang antri di depan kami 1, 2, 3,... 15

Jika satu orang menghabiskan kurang lebih 2 menit di depan kasirnya, berarti sekitar setengah jam lagi baru kami bisa berhadapan dengan mbak mbak cantik penjual tiket itu. Ah.. berarti tidak sempat untuk mengambil jam pertama yang rata rata dimulai pukul 12.30 nanti. Sementara sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 12.15

Lima belas menit kemudian, kami tetap belum menemukan kata sepakat untuk nonton film apa, hingga sebuah trailer ditayangkan di layar di depan kami. Jet lee dengan gagahnya sedang bertarung dengan seorang wanita cantik, ditambah lagi adegan banjir yang mengguyur sebuah kuil.

“wah, keliatannya seru”

Hmm.. mungkin. Agak ragu juga sih, tapi tak apalah. Lagipula udah lama aku tidak nonton film-film seperti ini.

Jadi. Mereka sepakat untuk menonton film ini. Akupun mengiyakan..
Lima menit berselang kami hanya berdiam saja. Perhatianku kini tertuju pada orang orang disekitarku, kulihat seorang pemuda di depan kami yang ternyata nonton berdua bersama ibunya. Eh,, film apa sih yang ia tonton? Mungkin the smurf. Mungkin...

Kuperhatikan di samping kananku, dua orang pemuda style ala kangen band sedang berbincang.. dilihat dari mukanya yang mesum mungkin mereka akan nonton pacar hantu perawan. :P

Ah,, terdiam seperti ini membuat pikiran dan mataku berputar kemana-mana.. bahkan seorang gadis manis yang dari tadi mondar mandir di samping kami pun tak luput dari perhatianku. Tapi.. eh, dia juga melihat ke arahku. Waduh!!

Sedetik kemudian mataku sudah kualihkan ke arah lain. Yah.. reflex, sebuah perasaan bersalah karena telah “memata-matai” membuat mataku langsung mencari objek lain untuk dilihat.

Ia masih saja mondar-mandir..

Aku berniat untuk tak lagi memperhatikannya, dan mengajak teman di depanku untuk mengobrol. Tanpa kusadari gadis tadi sudah berada di samping kami.

“hey, nonton apa?”

“jet lee”

“oh.. aku pengen nonton green lantern yang jam 1. Kali aja kita sama, jadi sekalian pengen nitip. Antrian di belakang panjang banget tuh.. takutnya ga sempat lagi he”

Kulirik sebentar ke arah belakang.  Busyet... ini antri tiket apa antri sembako?
Puanjaaaang banget

Bagi aku sih tak masalah kalau sekalian membelikan dia tiket. Toh, tak ada ruginya juga buat kami. Menolong orang itu pahala loh... lagipula, dia gadis yang manis. #ups..

Kulirik ke arah temanku yang berada di depanku. Hah? Aku tau ekspresi itu... ya, aku mengenalnya sudah sangat lama, dan aku juga sangat mengenal ekspresi yang dia pancarkan. Dia tertarik pada gadis itu!

“ok. Tak masalah, berapa tiket?”

“dua”

“duduknya dimana”

“Tengah aja, kalo nggak C ya D. Ini uangnya. Makasih sebelumnya”

Hm... dua tiket.. tadi sebelum ia menegur kami aku sempat melihat dia sedang berbincang dengan seorang gadis lain. Mungkin itu temannya. Ya,, dia pasti nonton bersama temannya itu!!

Aku membisiki teman yang ada di depanku, “hey.. gimana kalau kita nonton green lantern yang jam 1 aja. Jadi sama dengan dia. Siapa tau bisa jadi lebih akrab. Pertemuan ini bukan kebetulan. Ini takdir. Siapa tau dia  jodoh kamu”

Temanku ragu, kamipun melirik pada teman yang satunya, dia terlihat sangat antusias menyaksikan trailer film jet lee di layar depan.
Ya udah, kembali pada niat semula aja. Lagipula nanti masih ada waktu beberapa menit buat kami untuk berbincang dengannya. Cukuplah buat sekedar bertanya no handphone ataupun pin BB dan mengatur ulang strategi agar pertemuan berikutnya bisa terlaksana.

Oke, akhirnya sampai juga di depan mbak penjaja tiket. Pilih studio, cari tempat duduk, selesaikan pembayaran. Tiga tiket dan dua tiket sudah diprintkan sang petugas manis. Selanjutnya tinggal memberikan yang dua tiket itu kepada si manis lainnya.

“ini tiketnya”

“aduh, makasih banyak ya. Jadi ngerepotin”

“ah, gapapa. Biasa aja”

Baru saja aku ingin membuka mulutku untuk sekedar mengucapkan kalimat basa basi agar pembicaraan bisa lebih panjang, tiba tiba seorang pria menghampiri gadis itu..

“oh, udah ya tiketnya? Makasih ya...”

Laki-laki itu berterima kasih pada kami.
Dua tiket...
Ternyata dia nonton bersama laki-laki itu..

Laki-laki itu pacarnya!!~!@#R^#$&#%$*&%^)*^*)(*(_^&%%$#$

Kami bertiga hanya bisa berdiri terpaku
(tiba tiba warna latar berubah menjadi suram.. keheningan menyambut, dan sehelai daun jatuh terbang ditiup angin)

Wushhhhh........


*tamat

Sebuah cerita di sebuah Mall Sebuah cerita di sebuah Mall Reviewed by Arif Rahman on 12:12:00 PM Rating: 5

2 comments:

Tosca. Powered by Blogger.