Sebuah Undangan


“Datang ya rif?...”

“tolong kasih tau teman teman yang lain juga. Ini undangannya”

Aku baca undangan itu. Tulisannya cukup besar 'Undangan perkawinan Vina dan Evan', minggu depan. Bertempat di rumah Vina sendiri.

“Insya Allah.. kalau tidak ada halangan aku pasti datang bersama teman teman yang lain. Oh iya, Selamat yah...  Akhirnya sampai juga waktunya buat kamu. Moga langgeng dan jadi keluarga bahagia yang sakinah mawadah warrahmah”

“thanks rif, oke kalau gitu aku permisi dulu ya. Mau ngantar undangan ke teman teman cewe yang lain. Buat yang cowo aku serahin ke kamu aja yah. Hehehe.. sori jadi ngerepotin.”

“gapapa, kamu kan udah sering ngerepotin aku dari dulu. Jadi ga ada salahnya kali ini kamu kembali ngerepotin aku lagi. Hehehe.......”


“hahaha.. mohon bantuannya ya.. thanks sebelumnya. Ntar kamu boleh makan sepuasnya deh di sana.  Yaudah aku pamit dulu. Assalamu’alaikum....”

“Walaikum salam..”

Vina kemudian pergi dengan motor maticnya. Entah mau ke mana lagi dia membagikan undangan perkawinan itu. Aku tak peduli, yang aku tau  tugasku kini jadi bertambah  satu yaitu membagikan undangan perkawinannya kepada teman teman cowok di sekolah dulu.
Aku dan vina memang sudah berteman lama sekali. Kami berada di satu sekolah yang sama selama 6 tahun (SMP-SMA) , bahkan 4 tahun diantaranya kami jalani dengan berada di kelas yang sama. Hal itulah yang menjadikan kami sangat akrab dan tidak ada rasa sungkan sama sekali. Meski setelah lulus kami sudah jarang berhubungan, tapi keakraban tetap tak hilang dan selalu terlihat setiap kali kami bertemu.
Kulihat Vina sudah tak terlihat lagi di ujung jalan sana. Sementara aku masih duduk di depan rumah sambil memperhatikan undangan tadi. Dahiku mengernyit  membaca tulisan di undangan tersebut.

“Evan?”


****


 “HAH? Vina kawin???”

Fathir setengah berteriak mengucapkan kalimat itu ketika aku mengantarkan undangan padanya. Wajar sih kalau dia menampilkan respon yang sedemikian terkejut seperti itu. Aku juga sebenarnya terkejut, namun aku masih bisa mengontrol emosiku di depan Vina waktu itu.
Yah...  kami berdua sama sama mengetahui kalau pacar Vina selama ini bukanlah cowok yang bernama Evan. Namanya Agus! tepatnya M. Agus Ilham. –ga ada unsur Evan sama sekali-.  Teman satu kantornya Fathir dulu. Bahkan pada awalnya Fathirlah yang mempertemukan mereka berdua.
Sampai detik ini sebetulnya aku dan Fathir tidak pernah mendengar kalau hubungan Vina dan Agus sudah berakhir. Bahkan terakhir kami bertemu –mungkin 3 atau 4 bulan yang lalu- keduanya tampak masih mesra saja, tak ada tanda tanda akan putus. Undangan ini menimbulkan segudang pertanyaan dalam benakku. Kok bisa, hubungan Agus dan Vina yang sudah 4 tahun lebih itu bisa kandas begitu saja? Digantikan seseorang yang bernam Evan? Seperti apa sih Evan itu? Penasaran jadinya. Mau nanya langsung ke Vina, aku ga enak. Jadi segala misteri itu tetap aku simpan di pikiranku.

“Nanti coba aku tanyakan ke Agus deh”

Rupanya Fathir pun tak kalah penasarannya denganku. Ia memang sangat akrab dengan Agus, berbeda denganku yang hanya kenal begitu begitu saja. Yah, ide yang bagus. Mungkin saja dari pihak yang teraniaya  ini Fathir bisa mengorek info sedalam dalamnya. Bukan maksud mencampuri urusan orang lain sih... Cuma pengen tau aja kejadian yang sebenarnya. Siapa tau bisa dijadikan pelajaran buat diri sendiri dan orang lain.

“Oke deh tir, aku pulang dulu. Kamu datang kan? Ntar kalau datang kita berangkatnya bareng ya? “

“Insya Allah”
****


TIRURUT TUWIWIWIT !!! ... (maaf, ga bisa niruin bunyi nada sms masuk di hpku.. jd asal tulis aja)
Bunyi dari handphone  itu membangunkan tidurku. Menyebalkan! Gangguin orang tidur aja. Kulirik jam dinding, jam setengah 2 dini hari. Huh, siapa sih yang tengah malam iseng sms aku?
Ternyata dari Fathir. Isinya;

“Rif, Agus curhat banget sama aku.  Kami lagi smsan sekarang. Ntar deh aku forward smsnya ke kamu”

Aku yang masih mengantuk membalas singkat saja

“ Y ”

Kemudian aku ganti profil jadi silent mode. Dan kembali tidur.

****


Pukul 5 lebih 45 menit aku terbangun.  Kaget begitu liat ada 8 sms yang masuk di ponselku, semuanya dari Fathir. Kurang jelas yang mana yang dia kirimkan duluan, sepertinya pengaturan jamnya agak error. Entahlah, tapi aku coba susun semua sms dari Fathir, kira kira urutannya seperti ini:

Ini nih sms dari Agus

Iya, ak jg baru tau minggu kemarin. Nadia yg ngasih tau. Aku langsung telpo dy, beberapa kali!! N ga ad yg d angkt. Trus ak sms, nanyain semua. .. lamaaa bgt dia br blz., mlmny br ad blsn... ktnya dy djodohin ma kluargnya. Ak ga bgtu pcy jg. Ms sih tiba2 aja kluargnya ngjodohin dia? Pdhl kn kluargnya jg udh dekt bgt ma ak. Kok bisa bisanya???

Brusan aku dpt bocoran dr tman  krjanya. Ktnya Evan itu ank org kaya gtu.. pngusha batubara d daerah Marabahan. Knalnya br 2 buln-an jg.. tp si Evan lngsung ngelamar Vina. Eh, trnyta kluargnya stju aja & Vina jg ga kbrtn

Ya psti lh aku skit ht... siapa cb yg bs ikhlas bgtu aja, scra kmi kn udh lama bgt,.,lgpula ga prnh ad kt putus di antr kami.. mmg sih skrg jrg ktmu jg, tp wjar aja kn kami sm2 sibuk. Emang kurg ajar bgt si Evan itu, mntang2 ank org ky seenaknya aja mau ambl pcr org

Iya, aku mau ktmu & ngmg lgsung ma Vina minta pnjlsn ap yg trjd, tp kl mnemui kluargnya aku blm brani.. tkutnya mlh emosi & malh merusak image ak d hdpn kluagny
Mslhnya si Vina ini ga ngebls2 klo dsms... dtelp jg ga jwb!!!

Kn ak blg td,, ak blm siap/mgkn takut ke rmhny, tkut ktmu kluargnya td... ga enk jg jdnya ky gini. Huh,,,, knp sih di tb2 bs brubh ky gtu?  Pngen triak kncng2 klo gni bikin emosi aja.

Huh, km kira dgn k’adan gni aku bs tdur   tnang? Ga mgkn!!! Bnyk pkrn bwaannya pgn mrh2 trus. Kalo ktmu Evan tuh d jln psti lngsng aku hajar biar babak blur. Biar tau rasa

Beberapa pesan yang dikirim Fathir ke aku memang hanya sebagian, tapi sepertinya aku cukup memahami apa yang sedang terjadi. Hmm... kasian juga si Agus, pasti saat ini dia sedang stress berat. Aku juga mungkin tak sanggup bila menghadapi masalah seperti ini.
Agak heran juga aku dengan perubahan sikap Vina. Padahal dia yang kukenal adalah tipe wanita yang setia. Bukan tipe yang mudah terpengaruh gitu.

****

Die Meister... 
die Besten...
les meilleurs equipes.... 
the champions.....!!!
Lirik lagu ga jelas itu berkumandang... artinya Cuma dua hal, tayangan sepakbola liga champions sedang diputar di televisi, atau ringtone hapeku sedang berbunyi lantaran ada telepon yang masuk.  Hmm.. kayaknya pilihan pertama ga mungkin, soalnya  disini lagi kena jadwal pemadaman listrik. Berarti ada telpon masuk donk.. cepat cepat aku ambil hpku yang dari tadi ditaroh di kamar. Ternyata dari Vina.!!

Halo...
.......
......
.....
......
......
(maaf, aku lupa apa saja yang kami bicarakan di telepon. Jadinya aku ga bisa menuliskan secara rinci disini)


Vina, sahabatku sepertinya sedang galau. Yah.. untuk itulah dia menelponku. Masalahnya memang tak lain adalah tentang perkawinannya yang tinggal seminggu lagi itu. Tanpa aku banyak bertanya pun dia sudah mengeluarkan segala yang ada di hatinya. Katanya dia memang sudah sangat mantap dengan pilihannya untuk menerima Evan. Menurut dia, Evan orangnya baik, ramah dan pengertian. Ditambah lagi dia punya banyak bisnis yang dia kelola sendiri. Sudah pasti hidupnya lebih mapan dibandingkan Agus yang  hanya bekerja sebagai housekeeping di sebuah hotel berbintang 3 di sini. Tentang Agus, Vina memang merasa bersalah karena telah menyakitinya. Memang berat baginya ketika harus mengambil keputusan. Awalnya Evan bertanya pada Vina apakah sudah punya calon suami? Vina jawab sudah punya pacar. Tetapi diluar dugaan Evan malah langsung melamar Vina, dia menyuruh Vina bertanya dulu pada pacarnya (Agus) apakah berani melamar Vina secepatnya atau setidaknya punya rencana jelas kapan akan melamar . Kalau Agus masih menjawab secara ragu ragu berarti dia belum punya niat serius untuk menikahi Vina (menurut Evan loh).
 Setelah berkonsultasi dengan seluruh keluarga besar akhirnya Vina menerima Evan. Namun satu satunya yang ia sesali adalah kenapa dulu ia tidak melakukan apa yang disuruh Evan –memberitahu Agus- Ia takut masalah akan semakin rumit. Bagaimana nanti jika Agus bersikeras?  Padahal seluruh keluarganya sudah sangat mendukung ia dengan Evan. Bagaimana nanti kalau Agus ternyata sanggup untuk melamar dia secepatnya? Padahal hatinya kini memang lebih condong ke Evan?
Setelah resmi menikah nanti rencananya Evan akan membawa Vina ke Jakarta untuk tinggal di sana sekalian menjalankan salah satu bisnis miliknya.

“Mungkin dengan begitu lebih baik, jadi anggap saja aku dan Agus tidak pernah saling mengenal. Atau anggap saja aku sudah tidak ada lagi di dunia ini”

“Maafkan aku Rif,,, kelihatannya memang aku egois. Tapi setiap malam aku selalu berdoa untuk kebahagiaan Agus. Semoga ia bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku, seseorang yang lebih mengerti dia. Dan seseorang yang masih mau menunggu lama untuk dilamar olehnya.”

Aku tak bisa berkata apa apa lagi mendengar penuturan dan kisah dari Vina. Yah... hidup, mati, dan jodoh memang di tangan tuhan. Manusia memang bisa berkehendak,  tapi tuhan jualah yang akan menentukan semuanya. Namun aku tetap percaya dibalik ini semua Allah SWT sudah merencanakan sesuatu yang lebih besar, yang lebih baik kepada seluruh hamba –Nya. Hanya saja kita belum tau dalam wujud apa kita akan mendapatkannya. Semoga Vina, Agus dan semua teman teman yang lain bisa segera mendapatkan kebahagiaannya masing masing, dengan caranya masing masing.

***


Ketika kita sedang berjalan di satu jalur yang panjang, jalur yang sudah cukup nyaman, namun tiba tiba kita melihat sebuah jalur yang lain, dimana jalur itu diterangi cahaya yang lebih terang dari jalur yang kita lewati saat ini. dan bagaimana jika ternyata ada sebuah persimpangan yang menghubungkan antara jalur itu dengan jalur kita sekarang. bolekah kita berbelok untuk memilih melintasi jalur yang lebih terang dan lebih indah tersebut??

NB: cerita ini hanya fiktif belaka, kalaupun memang terdapat kesamaan kisah, nama dan tempat. Itu mungkin hanya kebetulan yang disengaja
Sebuah Undangan Sebuah Undangan Reviewed by Arif Rahman on 12:59:00 AM Rating: 5

2 comments:

  1. Hmmm cerita yg menarik....
    Jaman skarang materi sepertinya lebih dianggap dr apapun. Padahal materi bukan jaminan bisa membuat hidup kita bahagia.

    ReplyDelete
  2. Thanks ya udh meluangkan waktu untuk berkomentar di blog ini.
    hm.. iya sih, materi bukan jaminan utama untuk kebahagiaan hidup.. tapi tak dapat dipungkiri dengan materi kita jadi mempunyai banyak pilihan untuk membuat hidup lebih berwarna.

    ReplyDelete

Tosca. Powered by Blogger.