Perjalanan Milan

Menyorot AC Milan periode 1960 sampai pertengahan 1970-an, tak bisa tidak, harus membicarakan Gianni Rivera. Jatuh-bangun klub “Merah Hitam” ini, sedikit-banyak, tergantung pada penampilan gelandang temperamental tersebut.

Rivera sendiri, merupakan salah satu pemegang rekor pemain terlama memperkuat Milan 501 kali, dibelakangnya menyusul Franco Baresi 470 pertandingan.

Pria kekar dan jangkung ini pula yang bisa memaksa empat presiden Milan untuk terus memakai pelatih Nereo Rocco. Ibarat dua sisi mata uang tak terpisahkan dalam sejarah Milan pada periode tersebut.

Rivera pemain kontroversial sekaligus “fenomenal”. Ketika ia berulah dengan memusuhi siapapun di klub, tak ada yang berani memecatnya. Bahkan Felice Riva terkena “tulah” karena berniat menjualnya ke Juventus dan Vicenza. Presiden AC Milan itu malah dituntut mundur publik Stadion San Siro.

Presiden baru, Luigi Carraro, dan Pelatih Arturo Silvestri setali tiga uang. Keduanya terjungkal karena tak memberi tempat selayaknya kepada Rivera, anak emas Milan.

Pada musim 1967/1968, ia menuntut Milan menarik kembali Rocco yang dipecat dua musim sebelumnya. Sudah jadi rahasia umum, hanya kepada Rocco ia tunduk.

Rocco langsung melakukan pembenahan secepatnya. Antara lain mengangkat Rivera jadi kapten, sekaligus untuk meredam emosinya yang kerap meledak. Ia juga mendatangkan empat pemain baru. Yang paling menonjol Nevio Scala –mantan pelatih Parma dan Borussia Dortmund- dari AS Roma.

Hasilnya, Milan scudetto untuk ke sembilan kalinya dan juara Piala Winners untuk kali pertama. Lalu, musim berikutnya, kampiun Piala –kini Liga- Champions untuk kedua kalinya.

Rocco dinilai jago strategi, keras dalam soal disiplin, tapi pandai mengambil hati siapa saja. Satu-satunya “keburukan”nya, ia hanya memilih pemain yang bisa bekerjasama dengan Rivera.

Awal era 1970-an merupakan masa paling sulit dan penuh kekerasan di Italia. Pergolakan politik muncul dalam bentuk pertikaian bersenjata antarfaksi. Italia juga mengalami krisis ekonomi.

Masa itu juga merupakan periode terburuk bagi sepakbola “Negeri Pisa”, tak terkecuali Milan. Seolah membenarkan ramalan pengamat, temperamen Rivera kembali memuncak. Ia bukan saja kembali berkonflik dengan pemain Milan, melainkan juga berulah di tim nasional.

Di “Azzurri”, Rivera sempat membuat geger dengan mengancam pulang ke Italia, menjelang final Piala Dunia 1970 –lawan Brasil-. Pasalnya, pada pertandingan sebelumnya, ia cuma dimainkan tujuh menit.

Karuan pelatih Ferruccio Valcareggi kalang-kabut. Soalnya, tanpa Rivera, lini tengah Italia dinilai lumpuh. Terpaksa ia memanggil Rocco ke Meksiko untuk meredakan suasana panas.

Pada Piala Dunia berikutnya di Jerman Barat, peristiwa serupa terjadi. Ini sebenarnya kesalahan Valcareggi. Ia ngotot menyatukan Rivera dan Sandro Mazzola. Padahal, keduanya bermusuhan: saling merasa sebagai pemain terbaik Seri A. Mazzola adalah penyerang Inter Milan.

Bermula dari rencana Valcareggi membangkucadangkan Rivera pada pertandingan ketiga lawan Polandia. Gelandang Milan ini tak terima dan mengultimatum pulang ke Italia.

Begitulah Rivera. Jika ada hal yang tidak sejalan dengan keinginannya, ia akan melemparkan tuduhan pada semua orang. Tak peduli ia benar atau salah.

Diajang Seri A, musuh bebuyutannya adalah Concetto Lo Bello. Setidaknya tiga kali ia bertengkar dengan wasit paling tegas itu. Hasilnya total Rivera tak boleh bermain dalam lima pertandingan.

Begitu tak terkendalinya perilaku Rivera sehingga Milan sempat meminta rohaniawan Eligio untuk memberi bimbingan kepadanya. Eligio dikenal sebagai guru spiritual pesepakbola Italia kala itu.

Eligio pula yang menyelamatkan Rivera dari ancaman hukuman penjara, gara-gara menuduh wasit Seri A dikuasai mafioso. Saat itu, musim 1972/1973, Milan yang membutuhkan tiga poin untuk menggaet scudetto ke-10, dikalahkan Verona.

Kegagalan itu membuat Milan mengalami krisis kepemimpinan dan pelatih. Sialnya, setelah era Albino Buticchi, sejumlah presiden pengganti dinilai lemah dalam konsep pengembangan klub.

Seiringnya pergantian pemilik ini membuat banyak pelatih “angkat tangan” untuk menangani Milan. Terpaksa. Pada musim 1975/1976, mereka memanggil Giovanni Trapattoni –kini pelatih VFB Stuttgart- jadi pelatih sementara.

Sebagai mantan gelandang, Trap, panggilannya, lebih memprioritaskan pembenahan lini tengah. Antara lain mendatangkan Fabio Capello dari Juventus. Capello –kini pelatih Juventus- pernah sekali memenangkan Copa Italia bersama Roma dan tiga kali scudetto di Juventus.

Kelak, karir Capello makin meroket kendati permainannya dianggap “foto copy” Trapattoni. Ia bahkan juga mengikuti jejak seniornya jadi asisten, lalu pelatih Milan.

Trap sendiri Cuma dua musim menangani Rossoneri. Ia kemudian digantikan Filippo Marchioro –juga berstatus pelatih sementara. Permainan Milan pun berubah dari mengandalkan lini tengah ke sistem permainan daerah (zona marking).

Tahun 1980-an merupakan masa penuh bencana dan kejahatan mafia bagi Italia. Dua kali gempa bumi, terjadi pada Agustus dan November 1980, menewaskan belasan ribu orang. Lalu, pada tahun 1982, sekelompok mafia menembak Jenderal Carlo Alberto Dalla Chiesa, Hakim Agung, beserta isterinya. Setahun kemudian, Umberto Il di Savoia, Raja Italia terakhir, wafat.

AC Milan tak luput dari tragedi. Mereka dihukum turun Seri B, gara-gara suap. Skandal ini digerakkan Trinca dan Cruciani, masing-masing pemilik penginapan dan toko buah. Keduanya diduga anggota sindikat mafia sepakbola.

Trinca dan Cruciani menawarkan kemenangan bagi Milan pada pertandingan lawan Lazio. Syaratnya, “Il Diavolo Rosso” bersedia membayar 80 miliar Lira –kini sekitar Rp 400 miliar-. Tapi, Presiden Felice Colombo cuma sanggup menyediakan 20 miliar Lira.

Oleh Trinca dan Cruciani, uang itu sebagian diberikan kepada pemain Lazio. Yakni, Giordano, Wilson, Manfre-donia, dan Cacciatori. Esoknya, terbukti Milan menang 2-1 atas Lazio.

Setelah diselidiki dua bulan, skandal itu terbongkar. Semua pihak yang terlibat dihukum tak boleh main sepakbola lagi. Sementara Milan didepak dari Seri A.

Colombo kemudian diganti Guido Morazzoni, lalu Giuseppe Farina, kemudian Italo Galbiati. Masing-masing membawa pelatih sendiri. Ketiganya silih berganti membawa Milan naik-turun antara Seri A dan Seri B.

Baru setelah Ilario Castagner jadi pelatih, musim 1983/1984 “Rossoneri” mantap di Seri A. Bahkan, mereka tampil pada Piala UEFA musim berikutnya. Sayangnya, mantan pelatih Perugia musim 1997/1998 itu memilih pergi ke Inter, karena intrik. Nils Liedholm datang menggantikannya.

Mantan gelandang serang Milan ini membeli banyak pemain baru. Antara lain, Di Bartolomei, Ray Colin Wilkins, dan Mark Hateley. Sayangnya, kehadiran mereka tak banyak menolong. “Tim Merah Hitam” tetap berkutat di papan tengah.

Farina yang frustasi akhirnya memilih pergi ke Afrika Selatan. Ia meninggalkan Milan dalam keadaan porak-poranda dan utang 9 miliar Lira. Krisis tersebut membuat klub dari kota mode ini harus berhadapan dengan Pengadilan.

Dalam situasi kemelut itulah muncul Silvio Berlusconi. Semula, konglomerat media ini menolak jadi presiden klub. Tapi, melihat begitu banyak pengusaha ingin membeli saham Milan, Berlusconi tak mau kalah. Ia segera mengucurkan dana segar 40 miliar Lira untuk membayar tunggakan utang dan gaji pemain.

Dua di antara perusahaan yang berniat “mencaplok” Milan adalah Cesarani, importir, dan perusahaan minyak Armani. Namun, Fininvest, milik Berlusconi, lebih gesit.

Begitu mengambilalih Milan, Februari 1986, Berlusconi langsung menempatkan orang-orangnya dijajaran direksi. Mereka, antara lain, Paolo Berlusconi, sang adik, Adriano Galliani, Vittoria Dotti dan Cesare Cadeo. Siapakah sesungguhnya Berlusconi?

Putra bankir ini lahir di Milan pada 29 September 1936. Sejak kecil, Berlusconi diajari hidup mandiri, sehingga ketika sekolah pun nyambi kerja pada perusahaan konstruksi kapal.

Setelah lulus kuliah, ia ditawari magang di bank tempat ayahnya bekerja. Tapi, ia memilih membuka usaha sendiri. Perusahaan pertamanya bergerak dibidang jasa pelayaran dan cleaning service.

Baru pada tahun 1974, Berlusconi merambah bisnis pertelevisian. Setidaknya, lima stasiun televisi ia miliki. Kini, usahanya membesar bagai gurita, dari bisnis penerbitan, asuransi, dan keuangan, hingga real estate.

Dibawah Berlusconi, Milan menuju era baru sebagai tim kaya nan ambisius. Ia membeli sejumlah pemain bintang Italia saat itu, seperti Giovanni Galli, Daniele Massaro, dan Roberto Donadoni. Gaya berbisnis Berlusconi yang arogan merasuk ke tubuh Milan. Ia berjanji membawa “Si Setan Merah” menuju surga.

Pembenahan besar-besaran terjadi pada musim 1987/1988 dengan masuknya Arrigo Sacchi, pelatih Parma yang sebenarnya belum banyak dikenal. Tapi, perubahan paling fenomenal, masuknya duo Belanda -Marco Van Basten dan Ruud Gullit- Frank Rijkard menyusul setahun kemudian.

Sayangnya, pada partai perdana, Milan dikalahkan Fiorentina. Lalu, kalah dari Barcelona pada Piala UEFA. Publik San Siro mencemooh Sacchi sebagai pelatih “kagetan”. Bahkan, beberapa pemain menuntut pria botak itu mundur.

Namun, Berlusconi membelanya “Pelatih ini pilihan saya,” ia menegaskan. “Siapa tak suka boleh meninggalkan Milan”. Sejak itu, kritik terhadap Sacchi surut.

Untungnya, Milan kemudian menuai kemenengan demi kemenangan, sampai akhirnya meraih scudetto ke-11 mereka. Sacchi berhasil menghapus kesan buruk pada awal musim.

Periode itu merupakan awal lahirnya “The Dream Team”. Sukses Milan merupakan perpaduan kecermelangan duo Belanda, teknik dan strategi Carlo Ancelotti –kini pelatih Milan-, serta kesegaran Paolo Maldini.

Setahun kemudian, Milan benar-benar jadi tim impian, setelah mendatangkan Rijkaard, mantan pemain Ajax dan Real Zaragoza. Kini, klub berdiri pada tahun 1889 itu memiliki trio Belanda. Bahkan ketenaran mereka mengalahkan trio Swedia Gren-No-Li pada era 50-an.

Usai mendapat scudetto ke-11, langkah AC Milan seolah tak terbendung. Mereka melangkah menuju pentas Eropa. Pada musim 1988/1989, pasukan Arrigo Sacchi ini menjuarai Piala Champions -kini Liga Champions- setelah mengalahkan Steaua Bucharest. Ini merupakan gelar ketiga mereka.

Tahun berikutnya, boleh dibilang “Rossoneri” mencapai puncak kejayaan. Mereka meraih tiga gelar sekaligus: Piala Champions, Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental. Kendati di kompetisi lokal cuma jadi runner-up –Juaranya Napoli-.

Tapi, semusim kemudian, tanda-tanda buruk terjadi. Milan gagal lagi meraih scudetto, Piala Champions pun lepas. Sacchi yang diangkat jadi pelatih nasional, kemudian menyerahkan Franco Baresi dan kawan-kawan kepada Fabio Capello.

Era 1990-an merupakan masa “revolusi” sepakbola Eropa. Banyak stadion dibangun atau direnovasi. Beberapa peraturan baru dibuat FIFA. Antara lain, larangan kiper memegang bola operan rekannya (1992), diperbolehkannya dua kiper cadangan (1994), dan memperkenalkan poin tiga bagi tim pemenang (1995). Tahun 1997, Piala Champions diubah jadi Liga Champions.

Milan yang tak tampil di pentas Eropa, bisa konsentrasi memperbaiki performa mereka di kompetisi lokal. Capello, mantan salah satu punggawa terbaik Milan, dinilai sebagai pelatih ideal. Musim pertamanya, ia sukses membawa “Il Diavolo Rosso” juara Seri A dengan mengungguli Juventus, runner-up, delapan poin.

Sukses tersebut membuat Silvio Berlusconi dengan ringan memenuhi permintaan Capello membeli sejumlah pemain. Musim 1992/1993 ini Milan membangun “The Dream Team II” dengan mendatangkan Jean Pierre Papin, Dejan Savicevic, Zvonimir Boban, Stefano Eranio dan Sebastiano Rossi.

Namun, langkah yang dianggap paling fenomenal adalah pembelian Gianluigi Lentini. Nilai transfernya -US$ 21,5 juta (sekitar Rp 215 miliar)- merupakan rekor Italia, saat itu. Pembelian ini sempat menimbulkan protes dari tifosi Torino.

Ternyata, harga gelandang jangkung itu tak sebanding dengan kontribusinya. Permainan Lentini tidak secermelang di Torino. Konon, karena ia tak mampu menyesuaikan diri dengan suasana Milan yang penuh persaingan. Tapi ada juga yang menyebut Lentini merupakan korban “pengkarbitan”.

Yang jelas, dengan tim penuh bintang itu, Milan kembali merebut scudetto. Hal sama terjadi musim berikutnya. Kali ini, plus juara Piala Champions dan Piala Super Eropa.

Total, selama tiga tahun menangani Milan, Capello mempersembahkan tiga gelar kampiun Lega Calcio, satu kali Piala Champions, sekali Piala Super Eropa, dan tiga kali Piala Super Italia.

Sayangnya, apa yang pernah terjadi dengan Sacchi diulangi Capello. Lantaran sukses memberi banyak gelar, pelatih yang kini menangani Juventus itu tak mau mendengar kritik.

Ia, antara lain, bersikukuh mempertahankan skuad lama dalam dua tahun berikutnya. Pembelian paling menonjol Cuma George Weah dan Roberto Baggiom –kendati pemain terakhir ini dinilai gagal-.

Pada musim 1995/1996, “Tim Merah Hitam” memang tetap juara Liga Italia. Tapi, diajang Eropa, mereka rontok. Kabarnya, penampilan buruk ini karena Berlusconi sibuk berpolitik. Posisinya, sebagai Perdana Menteri Italia mulai digoyang lawan-lawannya.

Tanpa dukungan penuh dari bos besar itulah posisi Capello jadi sulit. Ia kerap bentrok dengan pemain dan tifosi Milan yang tak kenal ampun. Capello akhirnya memilih pergi ke Real Madrid. Ia ingin membuktikan masih tetap salah satu pelatih terbaik Eropa.

Oscar Washington Tabarez menggantikannya. Sayangnya, pelatih asal Uruguay ini mengawali musim 1996/1997 dengan buruk dan tak mempersembahkan kemenangan. Setelah kalah dari Piacenza, Tabarez terpaksa mundur.

Sebenarnya, pelatih yang baru dipecat dari Cagliari ini bukan “bencana” bagi Milan. Menurut banyak pengamat, tak seorang pun akan sukses menangani Milan dalam situasi psikologis tak menguntungkan.

Berlusconi sepakat bahwa Tabarez tak salah. Menurutnya, Milan yang sedang jatuh hanya bisa ditolong oleh pelatih bertangan dingin. Dan itulah Sacchi. Ia seolah tak peduli pria botak itu juga baru gagal menangani tim nasional Italia.

“Sacchi sudah mengenal baik Milan dan sebaliknya”, Berlusconi menjelaskan “Ia boleh saja gagal di timnas, tapi saya kira itu hanya insiden”.

Jika dulu Sacchi dibantu trio Belanda, kini ia mendatangkan Edgar Davids –kini di Tottenham Hotspurs- dan Michael Reiziger –Middlesbrough-. Lalu, membeli Christophe Dugarry -eks Birmingham- dan Jesper Blomquist –eks Everton-.

Namun, bukan sukses yang diperoleh, melainkan kegagalan. Milan terpuruk di peringkat 11 –posisi terburuk dalam sepuluh tahun terakhir-. Sacchi dianggap gagal total.

Lagi-lagi, Berlusconi bermimpi membangkitkan nostalgia dengan memanggil pulang Capello. Ia tampaknya percaya, sukses Capello membawa Real Madrid juara Liga Spanyol musim 1996/1997 pasti menular ke Milan.

Ternyata harapan tinggal harapan. Milan tetap tak bisa bangkit dan terpaku di papan tengah. Periode 1996-1998 merupakan masa terburuk “Si Setan Merah” dalam 10 tahun terakhir.

Desember 1997, Fabio Capello mengontak Oliver Bierhoff. Pelatih AC Milan ini mengharap penyerang Udinese tersebut mau bergabung, pada paruh musim kedua. Saat itu “Rossoneri” memang tengah bergulat mengatasi problem sulit menang dan mental pemain yang jatuh.

Secara prinsip, Bierhoff setuju ke Milan, tapi usai musim 1997/1998. Namun, ketika pemain asal Jerman itu datang –dengan transfer 8,5 juta pound (sekitar Rp 170 juta miliar)-, Capello justru sudah tak betah disana. Bos Silvio Berlusconi memecatnya karena dinilai tak mampu mengembalikan kejayaan Milan.

Berlusconi malah sekalian menarik Alberto Zaccheroni, pelatih yang baru saja sukses menyulap “tim pinggiran” Udinese jadi disegani. Zac, panggilannya, juga dianggap sebagai orang dibalik penampilan cemerlang Bierhoff –top score dengan 27 gol-.

Banyak yang salah duga. Orang menyangka Bierhoff datang karena diajak Zac. “Padahal saya lebih dulu dikontak Capello” Bierhoff menjelaskan.

Yang jelas, Berlusconi memang sudah lama ingin melihat Milan tampil denga sepakbola menyerang –sekaligus menang-. Dan itulah yang ditawarkan Zac.

Untuk mewujudkan ude tersebut, Zac juga membawa serta Thomas Helveg, pemain yang banyak menyuplai bola bagi Bierhoff. Lalu membeli sejumlah pemain muda dengan karakter menyerang. Antara lain Massimo Ambrosini -Vicenza-, Luigi Sala –Bari-, dan Andres “Guly” Guglieminpietro.

Pembaharuan yang dinilai paling radikal adalah mengubah pola lama 4-4-2 menjadi 3-4-3. Zac menempatkan tiga penyerang sekaligus, Bierhoff-George Weah-Maurizio Ganz.

Perubahan itu ternyata tak bisa cepat diserap pemain, sehingga sempat menimbulkan polemik panjang antara pemain lama dengan pelatih. Weah, Ganz dan Ibrahim Ba malah sempat mengancam pergi.

“Mengikuti strategi Zaccheroni tak ubahnya buang-buang waktu”, kata Weah. “Saya rasanya tidak mampu dan hal ini dirasakan juga Ganz”.

Namun Zaccheroni menanggapi semua kritik dengan tenang. Ia malah gantian menggertak dengan mempersilakan mereka yang tak cocok untuk pergi “Lebih baik mereka bekerja lebih keras daripada bicara terlalu banyak,” mantan pelatih Bologna itu menegaskan. “Tim ini perlu mental juara”.

Sebenarnya tak sepenuhnya Zac menerapkan pola 3-4-3. Dalam banyak kesempatan, ia memodifikasi jadi 3-4-1-2, dengan menempatkan Leonardo atau Zvonimir Boban menggantung di belakang duet penyerang.

Target Zac tak muluk-muluk. Dalam masa kontraknya yang dua tahun, ia membaginya dalam dua periode. Tahun pertama membangun tim tangguh. Baru pada musim berikutnya Milan ditargetkan juara.

Untungnya, Berlusconi mendukung penuh ide-idenya. Perdana Menteri Italia itu juga tak menuntut Zac secepatnya memberi gelar scudetto. Ia maklum, dua musim terakhir Milan terpuruk dan perlu waktu untuk membangkitkan kembali semangat pemain.

“Desember 1999 nanti Milan genap seabad”, kata Berlusconi. “Saat itulah saya ingin tim ini kembali berjaya”.

Perjalanan Milan pada pekan-pekan awal cukup mengesankan. Bahkan perjalanan Milan oleh Paolo Maldini dan rekan-rekannya tak pernah lepas dari 5 besar, 10 diantaranya dibuat dengan selisih gol tipis –satu gol-. Ini merupakan rekor kemenangan paling irit dalam 10 tahun terakhir.

Catatan tersebut sekaligus menunjukkan konsep tridente Zac ternyata lemah dalam urusan menjebol gawang lawan. Tapi, disisi lain, sekaligus menunjukkan Milan tim paling efisien.

“Bagi mereka, jumlah gol tak penting”, harian La Gazzetta de lo Sport mengulas “Yang penting menang”.

Boleh jadi, memang itulah pilihan Zac. Dalam situasi kerjasama tim yang belum padu, kemenangan setipis apapun merupakan sukses tersendiri.

Perlahan-lahan “Tim Merah Hitam” mengejar Lazio, favorit juara. Dan selisih poin delapan. Milan kemudian menyalip “Biancoceleste” untuk memimpin klasemen.

Perebutan scudetto berlangsung mendebarkan. Pada pertandingan terakhir Demetrio Albertini dan kawan-kawan unggul satu poin dari Lazio. Untungnya lawan mereka Perugia, tim yang tengah berjuang agar tidak terdegradasi. Sementara Alessandro Nesta dan kawan-kawan bertemu Parma.

Kedua tim sama-sama mengalahkan lawannya. Artinya, Milan tetap unggul satu poin. Dan pesta menyambut gelar scudetto ke-16 pun mereka rayakan di Stadion Renato Curi, milik Perugia. Esoknya Berlusconi membikin lagi pesta serupa di Stadion Giuseppe Meazza kebanggan Milan.

Kritik tajam yang sempat dialamatkan kepada Zac seolah sirna. Malah berganti puja-puji. “Ia pelatih dengan prinsip kuat dan pendekatan bijak, namun tegas”, kata Il Capitano, Maldini.

Zac menjadi pelatih kelima yang pada musim pertamanya langsung membawa Milan juara. Empat lainnya, Giuseppe Vianni (1956/1957), Nereo Rocco (1961/1962), Arrigo Sacchi (1987/1988), dan Fabio Capello (1991/1992).

“Ini kebahagiaan tiada tara”, Berlusconi mengakui. “Kami tak berharap juara musim ini, tapi Zac telah memberikannya”.

Kado ulang tahun indah, menjelang usia seabad -18 Desember 1989 ke 18 Desember 1999- Apalagi, musim tersebut Milan masih bagus prestasinya, berkat pembenahan yang tak kenal henti.

“Milan tim besar dengan sejarah panjang”, kata Zac. “Setiap orang ingin berada disini”.
Perjalanan Milan Perjalanan Milan Reviewed by Arif Rahman on 7:43:00 PM Rating: 5

No comments:

Tosca. Powered by Blogger.